
Mengapa kita sangat bergembira ketika menjumpai sebuah ruangan audio begitu bagus tampilan suaranya? Bukankah banyak ruangan musik di pameran itu? Atau, apakah anda selalu menemui ruangan audio di pameran itu nyaris bagus semua sehingga pulang pun puas rasanya, walau tidak membeli?
Bersyukurlah jika memang demikian. Tetapi ada pameran yang kami jumpai, beberapa ruangan tidak sesuai ekspektasi. Tampilannya kurang mewah semewah harga dan penampilannya, bahkan iklannya. Ternyata memang perjuangan sebuah alat, bukan berhenti saat produknya sudah jadi. Dia harus menempuh ‘lautan’ ruangan yang karakternya berbeda beda, termasuk bila ‘nyemplung’ ke ruangan pameran. Pemikiran ini terlintas, saat Auvindo melintas di salah satu ruang Singapore High End Asia 2025. Sistemnya super mewah, dan harganya pun untuk menyebutkannya kayak kurang tega mengatakannya ke anda. Tetapi, olala,… tampilannya begitu kurang. Kami yakin, set upnya belum maksimal, dan gangguan ruangannya pun banyak.
Pertanyaannya mengapa suara sistem audio di sebuah pameran seringkali tidak sebagus saat didengar di showroom atau di rumah? Padahal perangkat yang digunakan sama.
Beberapa Faktor
Nah mari kita bahas. Pertama dengan melihat orang orang yang bersliweran keluar masuk ruangan ini. Ini bisa ditengarai sebagai salah satu tantangan dalam mendisain layout dan setting di ruang pameran, sebuah ruangan yang bukan didesain untuk ruang audio, Masalah lain, problema kelistrikan karena bisa saja lokasi kamar berdekatan dengan lift, lokasi hotel berdekatan dengan stasiun radio sehingga suara siaran masuk ke speaker (ini terjadi di dua ruang saat pameran JIAVS 2025 – adanya radio interference), belum lagi sinyal dari hp-nya para pengunjung. Ini baru beberapa yang dapat memengaruhi performa sistem audio yang sedang dipamerkan walau tingkat pengaruhnya berbeda-beda.
Keakustikan
Mari bicara akustik ruang hotel. Sebelum pameran, biasanya exhibitor meminta ukuran ruangan dan jarak antar beberapa bagian, untuk dipikirkannya bagaimana pola layout penempatan alat, termasuk dimana menempatkan elemen akustik. Sebulan sebelumnya biasanya ada technical meeting dimana peserta pameran bisa melihat dari dekat kondisi kamar dan mengetahui di awal kira kira kondisi keakustikannya.
Saat pameran, tentu medan perangnya. Disini banyak hal berbicara, mulai dari kelistrikan, koneksi (seperti WiFi untuk streaming), kondisi kelistrikan di lapangan saat sudah digunakan sistem, jumlah pengunjung dan lain lain. Banyaknya orang keluar masuk ruangan sebenarnya bukan gangguan elektronik, tetapi gangguan akustik dimana karakter akustik ruangan terus berubah, Bukankah tubuh manusia menyerap frekuensi menengah dan tinggi? Bisa saja saat ruangan penuh pengunjung, suara bisa terasa lebih “mati” karena suara bass banyak terserap,mengurangi dinamika suara – dibanding ketika ruangan kosong atau hanya ada 1-2 orang(tambahan catatan, orang berjalan saja juga menghasilkan noise sekitar 45–65 dB).
Benar memang, sang exhibitor perlu tahu betul bagaimana ruangan hotel itu bukan ruang khusus audio, jadi dia perlu menghadapi sebuah tantangan besar. Tantangan klasik lain adalah pantulan kacaLantai marmer dan lain lain. Tak heran bila hampir semua exhibitor high-end membawa: acoustic panel, bass trap diffuser dan lain lain. Tetapi ada peserta yang tetap santai menggelar sistemnya, apa adanya tanpa perlu khawatir dengan keakustikan.

Kelistrikan
Ini masalah klasik lainnya. Sebut saja misalnya masalah yang muncul karena pengaruh motor dari lift yang memakai arus besar.yang potensial menghasilkan spike, distorsi harmonis dan EMI (interferensi magnetis). Hal lain, kalau jaringan listrik hotel kurang baik, menghasilkan noise, dimana noise tersebut dapat masuk ke power amplifier, DAC, preamp, bahkan clock digital.
Efeknya bisa berupa hum , dengung dan Radio interference (RFI). Nah yang sering dialami, adalah gelombang elektromagnetik masuk. Boleh jadi karena di hotel terdapat banyak sumber RF:WiFi, Bluetooth, walkie-talkie panitia, BTS operator, repeater, radio komunikasi security Semuanya memancarkan gelombang RF. Bahkan Kabel RCA yang panjang, kabel phono, maupun kabel speaker dapat bertindak sebagai antena jika shielding kurang baik.
Salah satu Solusi
Selain memakai panel akustik ada beberapa alat tuning untuk setidaknya membantu mengatasi masalah di ruang pameran ini. Sebut saja misalnya alat bernama Harmonizer dari NanoTec Systems Jepang yang dirancang untuk meningkatkan kondisi lingkungan elektromagnetik di sekitar sistem audio. Alat ini diklaim oleh produsennya dan banyak penggunanya mampu memperbaiki lingkungan elektromagnetik di sekitar sistem audio sehingga efek EMI/RFI dan electrical noise dapat berkurang, menghasilkan latar suara yang lebih tenang, fokus lebih baik, dan detail yang meningkat
Tips Mengoptimalkan
Berikut ada tips kecil dari kami sebelum menata ruangan.
- Atur posisi speaker dan kursi dengar untuk meminimalkan pantulan awal.
- Gunakan karpet, tirai, diffuser, atau panel akustik portabel untuk mengurangi refleksi suara.
- Pisahkan jalur kabel listrik dan kabel sinyal agar tidak saling mengganggu.
- Gunakan stop kontak dan grounding yang baik serta hindari beban listrik yang berlebihan pada satu jalur.
- Jauhkan router Wi-Fi, walkie-talkie, atau smartphone aktif dari perangkat audio yang sensitif.
- Setelah seluruh aspek dasar sudah optimal, pertimbangkan penggunaan perangkat tambahan untuk kian mengoptimalkan dan membantu mengatasi gangguan suara misalnya dengan NanoTec Harmonizer
Dalam sebuah pameran audio-video tantangan terbesar memang berasal dari akustik ruangan, kualitas catu daya, dan lingkungan elektromagnetik yang padat. Semua faktor itu dapat menurunkan kualitas reproduksi suara. Hasil terbaik hampir selalu diperoleh melalui kombinasi desain akustik yang baik, distribusi daya listrik yang bersih, grounding yang benar, pengelolaan kabel yang rapi, dan baru kemudian aksesori optimasi jika memang dibutuhkan.









