
Satu pengalaman menarik, diundang dengar bareng seorang pehobi yang termasuk gemar bereksplorasi di kawasan Pasar Kemis, Tangerang. Sebut saja inisialnya, KSH. Dalam kunjungan bersama pehobi lain bernama Rian, awalnya kami mengobrol panjang di ruang tamu, sebelum kemudian lanjut ke ruang audionya.
Kami jumpai sebuah ruang musik yang cukup menarik, tidak saja karena diisi sistem berkelas tetapi juga kepada pola penempatan banyak unsur yang masing-masing pegang peran, begitu teratur, sehingga ruangan tidak terasa sempit, termasuk penempatan banyak software, baik CD dan vinyl.. Selain itu gaya penataan elemen akustik ruangannya.
Ini adalah ruangan multifungsi, tempat KSH menikmati musik, karaoke atau memutar film – terlihat dari adanya layar yang tengah tergulung, beserta speaker speaker 7.1 channelnya. Sistem pendukung film dan karaoke diletakkan di belakang.
KSH termasuk pehobi yang gemar bereksplorasi, dalam aneka rupa. Mencoba tabung, coba kabel, coba software dan lain lain. Bahkan kali pertama masuk pun kami diajak bereksplorasi ringan, misalnya dengan membandingkan file dengan CD dan vinyl, lalu misalnya, bagaimana perubahan suara yang terjadi bila kita mengganti power cord. Memang kami sudah pasti mengetahui ada bedanya, tetapi apakah lebih baik atau malah downgrade?
Saat pertama masuk, disuguhkanyalah satu dua musik dari Spotify, tentu versi yang hi-res. Lalu dari Qobuz. Lanjut kemudian main CD, sebelum kemudian dengan vinyl. Dan disela memutar CD, dia coba ganti power cordnya, lalu kami amati perubahannya.
File vs CD
Kami mencoba satu album dari Diana Krall, S Wonderful, di album The Look of Love. KSH punya filenya, album CD-nya. Mari putar keduanya bergantian dan amati bedanya (di video atas). Disini kami hanya sempat merekam singkat saja agar videonya bisa singkat dan aman dari blokingnya YouTube. Mari amati beda suara dari keduanya dengan mengamati hasil rekaman diatas artikel ini. Ini memang Auvindo lakukan dengan merekam dari henpon saja(Samsung Note 10+). Ketangkapkah bedanya? Kalau dari lapangan langsung, terasa CD sediit lebih baik.

File terasa sekali kesan digitalnya dan terasa ada bagian yang tampilnya seperti malu malu, dan bahkan ada yang hilang. Muncul jelasnya di CD. Mengapa beda? Bukankah secara teori, Qobuz Hi-Res (24-bit/96 kHz atau 192 kHz) seharusnya mampu menyamai bahkan melampaui kualitas CD (16-bit/44,1 kHz)? Namun dalam praktiknya, banyak pendengar merasa CD justru terdengar lebih baik.
Ada beberapa penyebab yang patut ditengarai, misalnya Alasan pertama, masteringnya berbeda. Banyak album di Qobuz, Tidal, Apple Music, dan layanan streaming lainnya menggunakan versi master yang berbeda dari CD. Sering kali master streaming dibuat lebih keras (lebih sedikit dynamic range), sedangkan CD lama memakai master yang lebih natural. Akibatnya CD terdengar lebih hidup, lebih lega, dan lebih nyaman didengar.
Selain itu, kami yakin ini juga karena CD player yang dipakai, dalam hal ini AudioNote CD4.1x- ini punya clock yang sangat stabil, mekanisme pembacaannya presisi, serta catu daya yang bersih. Data dari CD dibaca, dikoreksi kesalahannya, lalu dikirim ke DAC dengan jitter yang sangat rendah.
Jika ditinjau dari data, salah satu dari kami yang mendengar saat itu menyampaikan pendapatnya bagaimana walaupun data Qobuz bersifat lossless, prosesnya melibatkan jaringan internet, router, switch, streamer, sistem operasi, buffer, dan DAC. Semua komponen ini dapat menambah noise listrik atau jitter yang memengaruhi hasil akhir, terutama pada sistem audio yang sangat transparan
Jangan dilupakan juga peran streamer disini. Apakah streamer yang digunakan, yakni streamer Eversolo ini belum mampu mengeluarkan performa maksimal dari file Hi-Resnya? Seorang pehobi pernah mengatakan pendapatnya bahwa transport CDnya yang seharga Rp20–30 juta dapat mengalahkan streamer dengan harga serupa dan dia duga ini karena streamer tersebut belum dioptimalkan,
Perlu diingat tentu bahwa ini terjadi di kesempatan kami mencoba ini. Bisa jadi di lain tempat, pemandangannya bisa berbeda karena setiap ruangan dan sistem audio itu punya keunikan masing masing. Bahkan dalam sebagian besar kasus, perbedaan yang didengar bukan karena format CD lebih unggul daripada file (termasuk lossless Qobuz atau Tidal), melainkan karena perbedaan mastering, diikuti oleh kualitas transport, clock, dan implementasi sistem streaming. Itulah sebabnya banyak audiophile masih menganggap CD sebagai salah satu sumber musik digital yang sejauh ini tetap lebih konsisten dan musikal.
Di sisi lain, kami melihat bahwa pemandangan ini seperti memperlihatkan bagaimana sistemnya KSH ini terbilang jujur dan suka tampil alami, tak suka memberi gincu. Diberi asupan rekaman yang biasa, keluarnya juga biasa. Tidak suka memberi torehan lipstick.Begitu diberikan rekaman yang lebih baik, seperti rohnya keluar. Kesan mengayunnya, intimnya keluar.
Ganti Powercord
Keasyikan lainnya, KSH lalu mengganti power cord. Ya, tentu kita sama sama tahulah, akan beda lagi tampilannya. Tetapi ya pingin tahunya, jadi lebih baik atau malah downgrade. Sekedar info, sistem ini y memakai tabung, termasuk playernya. Diganti kabel, ternyata kali ini tampilannya menurut Rian, terasa lebih refine, dan ayunannya lebih menarik. Jadi terasa kelas sistemnya naik.
Alunan diana Krall, wonderful (album The Look of Love, tahun 2001), tentu sudah anda kenal dengan baik. Coba ingat, bagaimana kesan suaranya di sistem anda atau teman anda. Di sistem KSH, saat diganti power cord, terasa ada peningkatan kelas. Tersimak bagaimana disela alur bermanja manja tersimpan ketegasan, yang terbalut dalam nuansa bisikan manja Diana dengan pianonya. Kami merasa rekamannya yang lebih cenderung main di bossanova ini terasakan hangat dan mendekatkan kesan kedekatan dengan Diana. Terasakan keasyikannya juga kala menyimak permainan bassnya Christian McBridge, terbilang genre jazz yang mudah dinikmati walau terlalu lembut. Menikmati Diana, tentu tak lepas kita diajak menikmati piano yang di sistem ini tersaji bersih.
Menarik memang ide tuan rumah mengajak kami mencoba coba dengar rekaman dari format format berbeda ini dan apa kesannya ketika satu unsur (kabel) diganti. Mengapa? Karena kita diajak kembali mengingat betapa kesan suara itu tidak melulu tergantung kepada satu sistem secara keseluruhan serta keterpaduannya dengan keakustikan ruangan, tetapi juga kepada rekaman dan satu bagian (yang sering dianggap terkecil ) dari sistem yakni kabel.

Sistem
Pre amplifier AudioNote M6 Line
CD player AudioNote CD4.1x
Pre amp phonostage AudioNoteM5RIAA
Power Amplifier AudioNote Empress
Turntable AudioNote TT3 with psu 1
cartridge AudioNote IoII
Step Up: AudioNote S8L
Loudspeakers AudioNote An E Lx He









