Cara Sehat Memilih Merk dan Model ala Phantom Audio

Comment
X
Share
Share with your friends
Ruang stereo private Phantom Audio dengan paduan sistem, diantaranya Aries Cerat dan Ø Audio.

Memilih Karena Pengalaman Dengar sendiri

Pernahkah anda bertanya, apa yang menjadi dasar alasan seorang pebisnis audio high end memilih merk tertentu untuk dipegang pemasarannya  di Indonesia oleh perusahaannya?  Kalau pada  Phantom Audio, pilihan dilakukan setelah  mendengar dan mengalami langsung(baik sebagai penikmat dan penilai musik),  mengamati konsepnya, mengunjungi pameran pameran dimana merk ini hadir, dan banyak berkomunikasi dengan pihak perusahaanya = Inilah yang banyak mengemuka saat awal obrolan Auvindo dengannya (10/09/2026) di private demonstration room Phantom Audio  di kawasan BSD.

Bagaimana kisah perjalanan singkatnya ketika kemudian menjatuhkan pilihan kepada Ø Audio?

Kembali Berkunjung ke Phantom Audio

Untuk menjawab keingin tahuan sekaligus mencari tahu kesiapan Phantom Audio untuk turun (kembali) di arena pameran JIAVS 2026 yang akan berlangsung di 5-7 Nopember 2026 nanti, penulis pun meluncur ke kawasan BSD, dimana  private demonstration dan listening session (yang bisa dikunjungi pehobi audio dengan perjanjian sebelumnya, alias tidak terbuka untuk umum) ini berada.   Dan ternyata, malah keasyikan, berjam-jam kami mengobrol dan dengar musik bersama di ruangan yang pernah penulis pernah kunjungi sekitar 8 tahun lalu ini.

Anda mungkin masih ingat nama Phantom Audio ketika tampil di JIAVS 2025. Inilah salah satu ruangan yang saat itu menjadi salah satu dari ruangan demo terbaik (sesuai obrolan penulis dengan beberapa pengunjung saat itu).  Jangan lupa, jumpai dia kembali nanti saat dia tampil kembali di JIAVS 2026 Show tanggal 5-7 Nopember 2026 di Fairmont Jakarta. Phantom Audio mewakili beberapa brand spesialis high end audio yang dipilih secara selektif, termasuk Aries Cerat dan Ø Audio.

Verdande, walau 2 Way, pembagian frekuensinya terbilang ekstrim. Tweeternya memakai compression driver 3.4 inci dengan diafragma carbon fiber, terpasang di Quad Vertex SoundField Horn. Horn inilah yang mengontrol direcitivy agar penyebaran suara lebih konsisten dan mengurangi kolorasi. Woofer 15 incinya (disetiap sisi speaker) punya long excursion dan dirancang dengan distorsi rendah.

Nah, mari kenal lebih jauh Phantom Audio  dengan mengenal lebih dekat Zahir, khususnya dalam  pemikirannya, idenya, kisahnya dan beberapa hal yang dia ungkapkan ke kami di bawah ini.

Cerita Saat Berpameran

Mari masuk ke ruangannya.   Kembali, selain menatap perangkat yang yakinlah termasuk papan atas, kami disuguhi sebuah treatmen  keakustikan ruang yang walau terlihat sederhana, tetapi ternyata bisa menjadi daya dukung yang positif bagi sistem dalam bermain total.  Bahannya apa ya?   Bicara jenis material,  menurut Zahir, material tersebut masih jarang digunakan pada banyak ruangan home theater maupun ruang musik di Indonesia.  Dan memang, bicara keakustikan, membawa pada sebuah hal yang juga sangat dekat dengan dunia Zahir: yakni treatmen ruangan.

Sesekali kami terlibat dalam obrolan tentang menggarap keakustikan ruangan, termasuk pengalamannya saat menata dalam waktu yang sangat singkat sistem stereo di kamar hotel pada pameran IHEAC tahun lalu. Menjinakkan akustik kamar hotel untuk menjadi ruang dengar yang mumpuni, jelas bukan pekerjaan gampang. Apalagi itu adalah sebuah suite room memiliki banyak furnitur yang tidak selalu bisa dipindahkan seenaknya, seperti sebuah  meja besar di bagian belakang (seukuran meja makan) ruangan yang tetap harus berada di tempatnya.

Sejauh pengalaman penulis berkali kali mengunjungi room Phantom Audio, hari pertama kesan dengarnya sedikit beda dengan hari kedua dan ketiga. Kian improve. Dan memang selain mendemokan, Zahir juga berusaha di setiap waktu sambil memaksimalkan setting perangkatnya terkait ruangan. Jadi kalau melihat Zahir masih mondar-mandir melakukan setting ketika pameran sudah berjalan, saya rasa itu bukan karena ia belum selesai bekerja. Bisa jadi memang begitulah cara dia mencari suara yang menurutnya benar.

Di sisi lain, seperti juga dialami para exhibitor lain, adalah saat Phantom Audio membawa produk, khususnya yang berbobot berat – seperti ampli Aries Cerat yang nanti akan dihantar saja sudah sangat berat. Preampnya  berbobot sekitar 120 kilogram. Phono stage-nya bahkan sekitar 150 kilogram.

Di JIAVS 2026 nanti, Phantom Audio berencana menggunakan speaker yang lebih kecil. Salah satu pertimbangannya ya akustik ruangan tadi yang memiliki keterbatasan. Zahir memang hanya memiliki waktu sekitar satu hari untuk melakukan setting memaksimalkan sistemnya setelah seluruh peralatan di-unloading di setengah hari sebelumnya. Dan bagi sistem berkelas seperti yang dibawanya, waktu satu hari tentu terasa sangat singkat untuk membuat maksimal, tetapi bukannya tidak mungkin. Saat JIAVS 2026 nanti, coba sesekali ajak dia ngobrol tentang ruangan dan sistem. Pasti dia bisa bercerita.

Dari pembicaraan kami soal sistem itulah nama Ø Audio sering muncul. Jadi kepo, ajak bicara tentang merk ini.

Bukan horn biasa

Zahir melihat Verdande, model dari Ø Audio yang akan hadir nanti di JIAVS 2026, sebagai speaker yang menarik karena bisa bekerja ramah dengan amplifier tube maupun solid-state. Walau  mudah bekerjasama dengan tube atau solid state,  kalau menggunakan amplifier tabung, menurut pengalamannya, kita perlu melihat power dan headroom yang cukup.

“Saya lebih suka menyarankan ampli tube di kelas 50 Watt-an lebih untuknya, dan  merekomendasikan sekitar 100 Watt atau lebih agar tersedia headroom yang cukup, khususnya saat musisi bermain di level yang lebih tinggi, sehingga ampli tidak terlalu cepat masuk ke area compression”kata Zahir.

Kebutuhan power dan headroom tentunya tergantung karakter amplifier, ukuran ruangan dan level dengar. Untuk ruangan besar atau listening level tinggi, dia lebih nyaman merekomendasikan ampli dengan headroom cukup

Selain Ø Audio, Phantom Audio punya Aries Cerat. Diatas, model DAC Ithaka, pengubah sinyal digital ke analog untuk diteruskan ke preamp/ ampli

Lalu bagaimana dengan Verdande?

Zahir cukup banyak menjelaskan bahwa Verdande ini memiliki kemampuan tinggi dalam hal suara yang mengisi ruangan. Salah satu alasannya adalah karena adanya penggunaan prinsip directivity pada horn.

Istilah direktivitas/directivity mungkin terdengar teknis, tetapi konsep dasarnya sebenarnya cukup mudah dipahami. Energi suara diarahkan ke tempat yang memang ingin dituju, bukan dibiarkan menyebar ke segala arah—ke lantai, plafon atau dinding.

Sekitar 18 tahun lalu Zahir memiliki dan menggunakan cukup banyak speaker Danley Sound Labs. Selama beberapa tahun dia juga cukup sering berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan Tom Danley dimana dia banyak belajar darinya mengenai horn design, directivity, dispersion serta bagaimana speaker berinteraksi dengan ruangan.

Menurut Zahir, konsep pengendalian arah suara seperti ini punya keuntungan besar. Speaker dapat lebih mudah bekerja di dalam ruangan tanpa harus membuat seluruh ruangan dipenuhi material akustik. Poin yang sebenarnya ingin dia sampaikan adalah bahwa pengendalian arah suara(controlled directivity) membantu mengurangi energi suara yang tidak perlu diarahkan ke lantai, plafon dan dinding. Ini membuat interaksi speaker dengan ruangan dapat lebih terkontrol da kita tidak selalu harus mengandalkan treatmen akustik yang berlebihan.

Dengan controlled directivity, bukan berarti treatmen akustik tidak diperlukan. Disini controlled directivity dapat mengurangi energi suara yang tidak perlu diarahkan ke lantai, plafon dan dinding sehingga interaksi speaker dengan ruangan jadi lebih terkontrol. Maka speaker bisa lebih mudah diintegrasikan ke berbagai kondisi ruangan tanpa harus bergantung pada treatmen akustik yang berlebihan.

Pendapatnya ini tentu bukan berarti treatmen akustik tidak penting, melainkan lebih kepada speaker dengan directivity yang terkontrol dapat bekerja lebih baik dengan ruangan dan mengurangi pengaruh refleksi yang tak diinginkan.  Ini menarik karena kembali mengingatkan bahwa bermain audio bukan hanya soal memilih speaker yang mahal. Ruangan dan cara speaker menyebarkan energinya juga menentukan hasil akhirnya.

Bukan Karena 5 Stars

Beberapa model speaker Ø Audio ini banyak mendapatkan review yang bagus, termasuk dari majalah terkenal seperti Absolute Sound. Apakah Zahir  berbangga dengan ini? Ternyata dia biasa saja. Ya dia tidak merasa review yang bagus itu bukan hal yang terlalu penting baginya, seperti hendak mengatakan, ‘baiknya kita dengarkan dahulu sendiri saja suaranya seperti apa”.  Review menurutnya memang bisa menjadi salah satu sumber informasi, tetapi harus juga mendengar, mencoba dan memahami produknya.

Jadi, ada solusi sederhana tetapi lebih menggigit: dengarkan dahulu – begitu.

Dalam menilai produk, Phantom Audio memiliki kebiasaan mendengar produknya, memahami karakternya, mencoba dalami sistemnya, kemudian memutuskan apakah produk tersebut memang layak dijadikan pilihan untuk Phantom Audio.

Zahir pertama kali mendengar speaker  Ø Audio  ketika berada di Munich. Suaranya membuatnya terpesona. Zahir  mengaku setelah mendengar sendiri, dia merasa O Audio ini menawarkan kombinasi musikalitas, kedinamikan, skala, engineering, controlled directivity dan value yang sangat kuat di level harganya.

Ia lalu seringkali berkomunikasi dengan pihak Ø Audio selama sekitar dua tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menandatangani kerja sama.Prosesnya memang panjang.

“Kami tidak mengambil brand hanya karena reviewnya bagus, rating lima bintang atau karena ada kesempatan secara bisnis.  Saya perlu mendengar sendiri, memahami teknologinya, mencoba dan mengenal produknya, baru kemudian memutuskan apakah brand tersebut memang layak kami representasikan”jelas Zahir.

Jadi ada hal menarik yang bisa saja jadi inspirasi. Dia tidak mencari brand hanya karena nama, prestise dan profit semata. Produknya sendiri harus membuat dia percaya dan harus membuatnya nyaman merekomendasikannya kepada customer. Ini karena pada akhirnya, kualitas suara, performance dan value jadi pertimbangan utamanya.

Bukan sekadar menjual speaker

Dari pukul 3 sore, kami banyak mengobrol lalu mendengar musik di ruanganya, mendengarkan penjelasannya, dan tak terasa waktu menunjukkan pukul 7.15.  Kami banyak berdiskusi dan Zahir banyak menjelaskan tentang speaker, amplifier, ruangan, direktivitas, posisi duduk sampai bagaimana sebuah sistem harus diperlakukan ketika hanya punya waktu satu hari untuk setting. Sungguh dia tahu apa yang dia tawarkan ke penikmat musik.

Sekitar dua jam  duduk mendengarkan sistem langsung, sebelum kemudian Zahir mengajak makan malam di rumahnya seraya bicara tentang  speaker, amplifier, ruangan, directivity, positioning sampai kepada system matching.

Zahir juga sempat bercerita tentang perjalannya ke berbagai pameran dunia. Sebagai representasi merk, jalan jalan ini tentu menjadi penting khususnya menggali pengetahuan lebih akan merk ini. Inilah yang membuatnya hampir setiap tahun ia pergi ke Munich atau kota lain untuk melihat langsung brand yang dipegangnya. Tahun ini, misalnya, perjalanannya membawa ia ke Vienna, Budapest, kemudian Perancis dan tempat-tempat lainnya. Ini tentu merupakan perjalanan menggali pengalaman diri.

“Pengalaman tersebut membuat saya kian mengenal dan memahami konsep konsep, seperti horn directivity dan bagaimana dispersi speaker berinteraksi dengan ruangan. Ini saya lakukan bahkan jauh sebelum saya mengenal Ø Audio. Jadi ketika saya melihat pendekatan Ø Audio, konsep directivity tersebut memang sesuatu yang sudah familiar dengan saya”katanya, kembali mengisahkan bagaimana setelah didengar, dipelajari dan dipertimbangkan selama bertahun-tahun, akhirnya Ø Audio menjadi salah satu merek yang ia pilih untuk dibawa Phantom Audio ke Indonesia.

 

Di sofa ini, kami sesekali berdiskusi setelah satu dua lagu selesai diputar. Ruangan ini didesain dan dibuat konstruksinya oleh Phantom Audio yang ternyata juga menangani treatmen akustik ruangan.

Inilah bahasan pertama kami dalam tulisan ini. Beberapa pandangan dan cara dia melakukan pendekatan terhadap sebuah merk dan model yang dia sukai, kami yakin bisa menjadi masukan bagi kita dalam beberapa sisi. Dan seperti kami jelaskan,  da merk lain yakni Aries Cerat yang seakan setia di tangan Zahir. Perlu kita korek bagaimana produk ini di kesempatan mendatang. Jangan lupa anda bisa cicipi videonya di link di atas.

Terimakasih, anda sudah menikmati bacaan ini sampai akhir.

Mari kita jumpai Zahir kembali di tulisan selanjutnya.

 

 

 

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *