High End Audio, Apa itu?

Comment
X
Share
Share with your friends

Mari dengar lagu di atas yang merupakan sajian dari speaker Mission 770 (yang seharga 60 jutaan Rupiah) dan turntable Vertere DG-1 (seharga 70 jutaan Rupiah).  Musik yang tersaji ini dikatakan tampil dari sebuah sistem yang boleh dikatakan high end, hanya saja kelasnya di kelas menengah (mid end).

Sebagai penikmat musik, apalagi stereo, tentu anda sudah akrab dengan istilah high end audio. Yang pasti, jika diarahkan ke alatnya, ini adalah sistem stereo. Sayangnya,  banyak dari kita yang langsung mengkaitkan dengan alat, yakni langsung ke ‘alat mahal’. Padahal tidak selalu ini tepat, karena mahal bagi tiap orang relatif(bagi anda, sebuah speaker Mission seharga tersebut diatas, anda katakan mahalkah?). Apalagi, jika seseorang sudah puas dan mendapatkan apa yang dia butuhkan dari sistem stereonya, dapatkah kemudian alatnya disebut mahal baginya? Jadi apa donk high end audio itu?

Sistem stereo high end di Ultimate Audio Video

Ayo bahas pengertiannya dari dua sisi.  Satu, passion.   Dua, baru alat.  Kata ‘high end’nya sendiri jauh lebih mengarah ke ‘performance’, dan  bukan harga.

Kalau dilihat dari kacamata ‘passion’nya, high end audio itu adalah sebuah semangat, nafsu atau ‘kegilaan’  atau maniak akan lagu.   Passionnya adalah dalam mendengar musik, mengamati dan menganalisa bagaimana baiknya rekaman itu direproduksi. Kalau sudah demikian, akan lebih mudahlah kita menangkap apa pesan dari sang composer atau performer, atau lebih jauh lagi, sang penata suara.  Memang seperti apa yang mereka inginkan?

Tentu saja mereka ingin agar kita bisa merasakan kehadiran mereka melalui rekaman yang kita dengar. Seolah sang penyaji ini tampil di hadapan kita secara maksimal, tentu kita dapat merasakan bagaimana emosinya dalam menyajikan. Nah, setelah ini barulah kita bicara alatnya.

Kabel, turut mendukung tampilan suara. Kabel harus netral dan menyampaikan warna suara apa adanya, tidak mengubah warna.

Alatnya (sistem stereo tadi) adalah sistem pereproduksi musik yang kita pakai sebagai kendaraan untuk menyajikan sang artis tadi melalui musik yang dienkode atau dituangkan di dalam media rekaman (baik berupa piringan hitam, CD atau file – yang kini kian populer). Kian baik kualitas dari sistem dalam mereproduksi,akan kian dalamlah rasa keterlibatan kita dengan musiknya.   Ada faktor lain yang ikut menentukan keterlibatan itu, yakni kualitas rekaman, faktor keakustikan ruang dan kekritisan telinga kita dalam menganalisa bunyi yang kita dengar. Tak kalah penting, tentu konsentrasi kita.

Bagaimana kalau dari sisi perangkatnya? Mengapa dikatakan perangkatnya mahal atau berharga tinggi?
Pertama, perangkat high end audio itu dibuat oleh seseorang yang juga punya passion tinggi akan musik(yang tidak sekedar membuat orang terlibat dengan goyang kaki, dancing), yang punya technical skill dan sensitivitas tinggi terhadap suara musik, dan dia mendedikasikan diri dalam membuat, dengan memakai komponen-komponen Istimewa (dan kadang langka) yang tentu harganya tidak murah, dimana mereka memadukan komponen yang saling matching. Kemungkinan dia banyak mengurbankan komponen dalam masa percobaan, demi mendapatkan kualitas tertingginya. Sebagian dari mereka ini pun ada yang hanya membuat satu dua model, untuk didemokan misalnya. Mereka baru membuat lagi jika sudah ada pesanan. Jadi, tidak dibuat dalam jumlah banyak/massal. Bahkan ada model tertentu dari satu merk, dibuat terbatas, misalnya 50 unit, misalnya untuk memperingati ulang tahunnya, dimana jumlah unitnya sesuai dengan usianya saat itu.

Sistem high end audio papan tengah (mid end) berisi speaker Mission 770 dan turntable Vertere DG-1, kami temui di rumah salah satu klien Malang Audio di Surabaya

Jadi apa yang membuatnya mahal? Tentu saja ada beberapa. Harga yang kita beli itu sebenarnya merupakan harga perpaduan banyak hal, mulai dari  buah kepintaran memadukan skill teknis dan sensitivitas tadi,  juga  ‘ongkos’ dari  harga komponen, termasuk seberapa besar dia sudah habiskan biaya untuk percobaan -yang gagal dan harus mengorbankan komponen dan produksi akhir. Belum lagi seberapa besar dia telah menghabiskan biaya  untuk promosi, dan lain lain. Tak kalah tinggi tentu adalah ketenaran nama pembuat atau merknya.

Jadi, dari sisi alat itu, produk high end audio itu didesain dengan telinga, dibangun oleh tangan (handcraft, bukan buatan mesin/robot). Tujuannya hanya satu, membawa kita kepada pengalaman mendengar musik yang melibatkan, membuat kita dapat  ‘melihat’ panggung dan merasakan tengah disana, dan merasakan komunikasi intens dengan sang penyaji.

Sistem pendukung, bisa saja di dalamnya berupa pemutar, pre amplifier, power amplifier. Di gambar diperlihatkan sistem full set FM Acoustic. Diantara sistem pendukung ini memang harus match sehingga suara bisa lebih maksimal.

Jadi, apa bedanya high end audio dengan audio yang sering kita dengar dan bisa membuat kita happy, berdansa, bernyanyi dan lain lain? Kita bahas selanjutnya ya

 

Video :

 

 

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *