Menyimak SON Traumakustik di IHEAC AV Show 23

Comment
X
Share
Share with your friends

Dari banyak ngumpul dengan sesama pehobi yang notabene pengunjung pameran IHEAC Audio Video & Lifestyle Show 2018, speaker karya bang Indra ini termasuk salah satu yang paling disukai. Saat di IHEAC Show 2019, kesan suaranya ditelinga penulis, tampil tidak secemerlang yang saat 2018. Dan di IHEAC Audio Video Show 2023  ini kami mau angkat topi dengan modelnya, Son.   Walau posturnya kecil (bookshelf), tetapi sempat membuat kaki ogah beranjak dari depannya.

Tak harus mahal

Jadi ingat, akan sosok Indra Ramlan,yang mendisain speaker speaker Traumakustik. Indra telah berketetapan tak akan pernah memakai driver mahal. Saat itu untuk Sphinx-nya  dia gunakan driver dari SB Acoustics. Oh ya, bicara SB Acoustics,  salah satu model speaker Traumakustik pernah berhasil menjuarai (juara 1) di lomba desain speaker IDLDC 2017 di kelas speaker floorstanding yang diadakan oleh SB Acoustics

Dia lebih pilih yang kelasnya  biasa saja dari merk ini, walau merk ini pun punya kelas yang lebih mahal. Mengapa? Salah satunya, jadi membuat hatinya kian tergelitik untuk bereksplorasi. Nah, bila kemudian eksplorasinya dianggapnya sukses dan ternyata suaranya di atas kelas dari driver ini, tentu ini membanggakan hati. Dan kalaupun nanti sang pemilik speaker ini ingin naik kelas lagi suaranya, ya tinggal ganti drivernya saja.

Salah satu yang bikin asyik saat mendisain speaker adalah mempelajari driver yang dia rencanakan beli dan melihat dimana kelemahan driver, untuk kemudian dia usakan untuk menghilangkan kelemahan itu. Memang, demi ini dia perlu rela mengurbankan beberapa drivernya jebol karena eksperimennya. Itu di Sphinx. Bagaimana dengan Son-nya?

His SON

Sesuai namanya, maka Son ini adalah anak tunggalnya Sphinx (bisa jadi anak semata wayang, karena belum ada bocoran, apakah akan lahir model lain, misalkan yang diberi nama Son MK II, mungkin, atau mungkin nantinya Son Anniversari Edition, haha). Tak heran, keduanya punya kemiripan, seakan Son membawa gen-nya Sphinx. Ya, Son mengikuti alur designnya Sphinx. Jika mengamati sosoknya,maka badannya seolah sedikit membungkuk ke bawah. Drivernya terkesan sedikit mengarah ke bawah, tidak tegak lurus kedepan.  Sempat ngobrol sama bung Indra, disela kesibukannya melayani pengunjung roomnya – dia katakan sisi yang melandai ini dibuat agar sisi atas dan bawahnya tidak simetris. Ternyata ini punya maksud agar suara high-nya lebih dapat. Apakah ‘dapat’ disini agar bisa terkesan terbang? (maaf lebay dikit). Istilah treble yang terbang, pernah kami dengar beberapa tahun lalu.  Tujuan lain, agar dimensinya lebih  lebar. Bisa saja ini mengikuti konsep di dunia aerospace.

Son dijual seharga 36 juta Rupiah. Bagaimana rasanya?  Saat duduk, bung Indra menyuguhkan satu track yang dominan instrument terompet. Ah, lupa menanyakan judulnya. Yang pasti,terompet itu ditiup keras-keras,tetapi sungguh, pemainnya  hebat. Dan kehebatan itu dapat diabadikan oleh Son.Instrumen ini tetap terdengar indah, sama sekali tidak terasa tajam, padahal jarak duduk cukup dekat dengan speaker, dan level volumenya pun terbilang tinggi. Jadi ya, kontrolnya sangat baik. Tidak terasa kering, dan masih terasakan’bau-baunya’ analog.  Bagaimana komentar teman teman yang kami jumpai?

“Speaker ini salah satu yang terbaik di show. Salah satunya, karena speakernya berhasil menghilang”kata Hendry Chen.

“Musical, rich mid, articulate, coherence and sweet”kata Danny Chairil, reviewer senior.”Untuk vocal termasuk yang the best (di show ini). Karena ini speaker book shelf, maka ada keterbatasan bandwithnya”tambah Danny.

Dikunjungi EB Duet

Eits, ternyata room ini juga punya cerita kecil. Jika anda melihat EB Duet, yang beranggotakan 2 orang, vokalis dan gitaris – sering tampil di panggung lantai 3(Function room) Hotel Fairmont Jakarta yang dijadikan tempat pameran IHEAC Audio Video Show 2023 (www.piheac.com), tentu terkagum kagum sendiri akan merdunya Eve Wong, sang vokalis wanita. Nah, vokalis ini menyanyikan salah satu lagu andalannya yang juga ada di dalam album rekamannya yang sedang dipromosikan kala pameran ini – di ruang 1503 ini. Mereka melakukan semacam A/B comparation test.  Mana lebih enak, mendengar langsung atau mendengar rekamannya. Atau apakah  kesan dengar dari sound system jauh berbeda dengan bila mendengar langsung.

Dari kesan kami, juga pendapat beberapa yang kebetulan hadir disitu, kesannya ternyata sangat dekat.Very  close. Begitu pun pendapat Eve.

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *