Home Theater 4 Subwoofer Tanpa Speaker Center ala Johan

Comment
X
Share
Share with your friends

Bayangkan, dalam satu ruang khusus (dedicated) di rumah anda, ada home cinemanya, ada juga stereonya, masing-masing dengan speakernya. Nah, kalau ini sudah hampir jadi pemandangan biasa.  Yang tak biasa itu, kalau pemandangannya seperti diatas, tetapi kita tak memakai speaker center. Suara dialognya bagaiman dong?  Kalau pak Johan Kosasih memakai  sepasang speaker stereo tadi. Mengapa demikian, bukankah dia bisa menampilkan staging di tengah, termasuk vokal? Ini baru tidak biasa. Nah, yang tak biasa lainnya adalah bila ruangan kita hanya sekitar 4 x 6 tetapi kita  memakai 4 subwoofer! Bukan sub kecil, tetapi dua buah yang 12 inch dan 2 buahnya di 15”?  Adakah yang seperti ini?

Johan Kosasih adalah seorang designer  interior dan akustik ruang home audio dan home theatre. Kami sudah mengenalnya sejak puluhan tahun lalu, dan bertemu kembali saat  pamerannya Malang Audio dan Music by Design, di Grand Royal Ballroom. Ujung-ujungnya, Johan mengajak ke ruang home cinema karyanya.

Ruangan ini berada di lantai atas rumah. Ukurannya kecil sekitar 4 x6 meter dan untuk mencapainya, kita perlu meniti tangga sempit, yang bahkan jika tak berhati-hati bisa membuat kepala kita terantuk. Tetapi sepanjang perjalanan meniti anak tangga itu, Johan menghiasi kiri kanan dinding dengan berbagai pernak Pernik yang menarik mata.

Sampailah di ruang home cinema ini setelah di salah satu sisi dinding ruang masuk ada logo JH Home Cinema Design -nama usaha Johan. Ruang ini  relatif kecil, tetapi nuansa cinema sudah menyambut saat memasuki ruang. Ruang ini memainkan lekak-lekuk di berbagai sudut, dan memberi sentuhan eksotis dengan lighting yang memberikan ambience dan diletakkan tersembunyi di balik panel panel akustik dinding. Lighting ini dimainkan dengan empat remote control kecil. Kami lihat ada 4 remote di depan kursi penonton.  Cukup eksotis, apalagi melihat ada logonya Jurrasic Park, lalu poster film di dinding kanan.

Permainan lekak lekuk dinding, mendukung keakustikan ruang

Di tengah depan ada satu blok diffuser. Johan membuat diffuser ini  agar suara bisa tampil lebih fokus dan lebih deep.

Apa saja perangkatnya?

Yang bikin senyam senyum juga, adalah bagaimana Johan menempatkan perangkat perangkatnya. Lihatlah, dia taruh speaker front theaternya seperti dalam sebuah layer panel, yang seakan disembunyikan, dan diberi sekat berupa kayu setebal 10 cm pada  samping speaker bookshelf untuk musik.

Speaker front home theater yang disembunyikan di samping speaker stereo B&W 803

Ya, ada sepasang speaker bookshelf B&W 705 . Sedangkan untuk speaker depan cinema ‘hidden’ tadi, adalah  speaker custom yang merknya kurang jelas, tetapi memakai driver JBL. Untuk side surround, Johan memakai dua merk, Atlantic Technology dan speakernya Kenwood untuk back surround. Memanfaatkan pre-amp lama McIntosh C34 dengan power Quad 606, dan AVR Onkyo yang masih di 7.1 channel. Proyektornya lebih unik lagi, memakai proyektor mini Freestyle-nya Samsung. Layarnya 100”, tanpa merk dan ini layar dibuat cukup hanya menggunakan PVC board warna putih.  Ini semua adalah model model lama, tetapi belum pantas disebut model kuno.

Johan memakai 4 subwoofer. Sistem STEREO untuk mendengarkan music 2 channel memakai 1 subwoofer 12 inch yang diletakkan di depan kursi dengar di sebelah kanan sedangkan sistem STEREO untuk movie memakai 4 subwoofer, 12 inch  yang diletakkan di depan dan belakang kursi dengar sebelah kanan dan 15 inch di depan dan belakang kursi dengar sebelah kiri.

Penampakan speaker front custom

Di tengah depan ada satu blok diffuser. Johan membuat diffuser ini  agar suara bisa tampil lebih fokus dan lebih deep.

Nah, inilah dia konsep memadukan beragam merk, bahkan merk lama, dimana diantaranya ada yang  custom. Tentu sesuatu yang langka yang tidak pada umumnya seperti ini.  Johan bahkan berani mengatakan  sistemnya sebagai sistem yang irit, dimana kita hanya perlu mengunduh lagu, dan tak perlu beli media fisik seperti CD. “Yang penting, suasananya bisa dapat”kata Johan.

Salah satu subwoofer

Maksud  kata ‘suasana’ diatas, setelah kami alami, rupanya  adalah bentuk keinginannya untuk mendapatkan satu hal dari kedua sistemnya ini, yakni ‘gregetnya’. Caranya, sistem Stereo di Music 2 chanel untuk mendapatkan staging ( music tampil secara live seperti suasana panggung sebenarnya, di mana posisi penyanyi di tengah dan musik yang mengiringi penyanyi  berada di belakang penyanyi ). Dari analogi ini maka sistem Stereo di movie akan di dapatkan ambience ( suasana ) di mana suara vocal dialog mengikuti di mana posisi orang itu berada dan suara-suara efek akan tampil secara live dan detail yang menggambarkan suasana sebenarnya di film tersebut, suara tampil secara nyata dan dramatis seolah-olah suara keluar dari dinding bukan dari speaker, suara benar-benar lepas tidak bersumber dari speaker, seperti tidak ada speaker di dalam ruang itu…. Speaker terasa menghilang.

AVR Onkyo, diletakkan tersembunyi dalam kabinet di depan kursi tonton

Suasana di depan sudah kita dapatkan dengan cukup dramatis lalu bagaimana dengan suasana di samping dan belakang yaitu surround?  Untuk mendapatkan suasana di samping dan belakang, Johan menggunakkan ampli surround 7.1, karena yang di pakai adalah format STEREO maka dipilihlah format rekayasa dengan memilih format mode listening Dolby.

Di sisi lain, kami jadi merasa bahwa ada yang lain lagi. Umumnya orang memperhatikan estetika lebih dahulu, tetapi Johan melihat bagaimana  bentuk suara di dalam ruangan dengan menata penempatan speaker dan subwoofer serta mengatur penempatan akustik suara terlebih dahulu ….Setelah terbentuk, barulah dibuat sisi estetikanya.  Jadi kebalik. terakhir baru  estetika.

Hanya saja, untuk mendapatkannya tentu bukan memakan waktu yang singkat. Perlu waktu panjang untuk trial and error juga.

 

 

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *