Bertanya Keakustikan dari Beberapa Sudut Pandang

Comment
X
Share
Share with your friends

Sekedar kenangan di tahun 2018, kami pernah diajak oleh bung Fajar Gunawan ke ruang tekannya ini yang berada di Bandung (lihat foto kedua, kami berfoto bersama Julius dan istri serta Fajar dan teman temannya). Nah, ada pendapat dari Fajar dan juga desainer ruang lain, Didi Kartanegera. Mereka adalah dua orang desainer ruangan yang pernah kami temui, dimana kami menanyakan tentang hal mendasar tentang akustik.

Kedua desainer ruang audio video home entertainment ini memberi sudut pandang berbeda. Didi Kartanegara dari Lamesa misalnya, mengatakan bahwa akustik lebih mengarah pada tata suara atau bunyi suara dalam ruangan, dengan memperhatikan bentuk ruangan beserta permukaan-permukaan yang mengelilingi suara tersebut. Menurutnya, akustik dapat diterjemahkan juga sebagai tata ruang yang memiliki pengertian teknikal, termasuk seperti kefisikaan. Tetapi, intinya bertujuan agar telinga manusia dapat menerima suaranya dengan baik dan ideal.
Jika diartikan dengan singkat, Fajar Gunawan desainer ruang dan suara dari Hi Fi Shop–memaknakan akustik sebagai proses bagaimana agar frekuensi bersih yang dipantulkan dapat masuk ke telinga. Sementara, yang lainnya diserap atau dibuang, termasuk frekuensi yang berefek seperti standing wave. Menurutnya, dengan akustik frekuensi yang masuk ke telinga merupakan frekuensi pilihan yang bertujuan agar telinga dapat mendeteksi instrumen dengan benar.

Dua pendapat diatas tentunya sanggup menggambarkan bagaimana bila kita bicara tentang akustik, bahasannya sangat luas, dan di antaranya mencakup hal-hal seperti yang telah disebutkan. Jika sudut pandangnya dari usaha, merupakan upaya penata ruang agar suara audio yang keluar tidak mengalami gangguan akibat efek ruang seperti dimensi ruang, unsur atau benda benda jika sudah ada dalam ruang seperti kaca, jendela, dan lain-lain. Tujuannya, agar sistem dapat terdengar jujur. Sebuah ruang akustik yang baik dapat bersifat “menelanjangi” (memperlihatkan kualitas asli dari sistem audio. Jika jelek, ya terdengar jelek, sama jeleknya, jika bagus ya terdengar bagus, sama bagusnya). Sebuah ruang akustik yang baik akan membuat sistem bersuara mahal akan terdengar mahal (seperti sangat musikal, tampil live, natural, dan sebagainya), begitu pun sebaliknya. Tetapi, kami pernah mendengar pendapat dari seorang desainer ruang, bahwa ruang akustik sah-sah saja dikatakan, baik jika membuat suara dari sistem kelas menengah misalnya, jadi sekualitas sistem papan atas. Kami kurang setuju, karena jika demikian, berarti akustik bermakna “menambahkan”, alias tidak jujur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *