Ruang home theater 4K Dolby Atmos

Home Cinema 4K Dolby Atmos di Tangerang

Comment
X
Share
Share with your friends
Desain interior sisi depan ruang home cinema, memakai layar Severtson

Jika anda ingin atau tengah membangun rumah, seberapa pun besarnya, cobalah untuk menganggarkan salah satu ruangan rumah anda ini untuk ruang hiburan bersama keluarga. Salah satunya, seperti membuat ruang musik dan atau home theatre dan yang tentu sekaligus bisa jadi ruang untuk gaming. Jadi, jika libur, atau senggang, bisa ajak keluarga berkumpul disini. Apalagi jika ada pertemuan keluarga atau kantor, bolehlah salah satu mata acaranya adalah nonton film atau dengar musik bareng. Ini pula yang kami dapati saat berkunjung ke sebuah rumah di kawasan Tangerang. Kami berkunjung ke sebuah ruangan menonton film. Sebut saja dia dengan nama Home Cinema. Dia sudah main di video 4K dengan tata suara Dolby Atmos

Full team McIntosh, dari player, prosesor hingga power amplifier

Ruang teater berlantaikan parket kayu ini memiliki dimensi yang cukup (tidak terlalu kecil namun juga tidak terlalu besar) untuk sebuah ruang Cinema Theatre, dengan ukuran bersih (setelah treatment akustik dan interior)  8.30 meter (Panjang) x 4.40 meter (lebar) x tinggi 2.47 meter (tinggi).  Di ruangan ini, galeri audio De’Sound bekerja sama dengan  PT. ESSI (Esa Sinergi Selaras Indonesia) membangun sistem audio. Bila De’Sound berperan dalam penyediakan perangkat sistem full McIntosh, ESSI berperan di sisi ‘design and build’nya mulai dari akustik, interior, architectural lighting, low noise air conditioning dan audio system termasuk perangkat speaker, layar dan proyektor.

Paduan speaker SLS, McIntosh, Furman dan projector JVC

Pemilik ruang ini adalah seorang penikmat musik, dan sudah lama bermain system high end stereo. Kini, di rumah barunya ini, dia ingin menikmati film bareng keluarganya, selain menikmati musik. Maka, dibangunlah ruangan untuk system high end stereo, sekaligus juga berfungsi sebagai Home Cinema tadi.  Sayangnya, saat kunjungan Auvindo ini, perangkat high end audio belum  di set up, sehingga yang bisa dinikmati sementara  hanyalah sajian film.

Bermain di Dolby Atmos berkonfigurasi 9.2.6 channel dengan speaker height channel SLS dari Dolby Lab.

Perangkat

Saat masuk ruangan, terlihatlah sebuah desain interior bergaya modern futuristik dengan dinding-dinding  yang dibuat  menyerupai diffuser. Ada layar 135 inch dengan format 16:9 yang di sebelah kiri-kanannya sudah dipasang speaker SLS, tersembunyi di balik panel kain. Begitu pun dengan sepasang subwoofer – dipasang di balik layar bagian bawah. Di dinding kiri, kanan, dan atas, tereksposelah 12 unit speaker surround SLS. Sistem speaker di ruangan ini menerapkan format suara Dolby Atmos berkonfigurasi 9.2.6 channel.

Di sisi belakang, tampak sebuah rak yang masuk ke dalam dinding,  dimana sederet sistem player 4K, surround processor, dan power amplifier, full merk McIntosh berjejer rapi dalam dua unit rak.   Ya, rupanya sang pemilik adalah McIntosh lover. Tak heran yang tampil hampir semuanya adalah merk McIntosh. Tipenya : MX180 untuk surround processor, 2 unit MC 452 amplifier stereo untuk speaker LCR, 1 unit MC 257, amplifier 7 channel untuk speaker side surround, 1 unit MC 207, amplifier 7 channel juga untuk speaker top surround dan 1 unit MC 1.25KW, amplifier monoblock untuk subwoofer. Merk lain, ada Furman (prosesor video) dan JVC (proyektor). Untuk layar, menggunakan merk Severtson.

MX 180  adalah prosesor A/V yang telah mendukung video 8K/60Hz dan 4K/120Hz di ke-7 port-nya yang sudah Ultra High Speed HDMI  (5 input dan 2 output). MC 12.5kw adalah amplifier solid state 1 channel yang merupakan edisi Anniversary-nya McIntosh ke-75. MC 452  adalah amplifier stereo yang bermain di 450 Watt per channel, dan disebut-sebut sebagai salah satu amplifier stereo paling powerful-nya McIntosh, sedangkan  MC257 dan MC207 adalah power amplifier 7 channel yang kami lihat sama menawannya dengan model lain, salah satunya di unit display meter output power. Ya, unit-unit McIntosh ini terasa kian eksotis dengan display blue VU meternya, yang  juga menjadi salah satu ciri khas McIntosh.

Inilah sederet perangkat McIntosh.  Sedangkan untuk speaker digunakan brand SLS keluaran Dolby Lab. Speaker LCR menggunakan SLS CS50, semua unit speaker surround menggunakan SLS CS1090 dan 1 unit subwoofer SLS 118, plus 1 unit active subwoofer Velodyne 12 inch untuk LFE (Low frequency effect). Speaker ini dipilih oleh  ESSI untuk ruangan yang telah menerapkan konsep surround Dolby Atmos. Secara lengkap, adalah sebagai berikut.

Speaker utama, adalah SLS CS50, sebuah speaker 2 way dengan tweeter ribbon dan kelasnya sudah cinema grade. Untuk center, juga memakai CS50 . Untuk speaker surround kiri dan kanan serta back surround, ada SLS CS1090 yang memakai driver 8”. Begitupun untuk speaker top surround. Bracket dindingnya pun memakai SLS (YK1090). Ada lagi recess ceiling kit untuk speaker top surround yang memakai SLS RC124. Untuk subwoofer, ada HI SPL SLS 118-1, dengan driver 18”.

 

Sistem Tata Udara

Salah satu keunikan ruangan ini ada pada sistem tata udaranya, yang tidak menggunakan sistem ducting seperti pada umumnya. Untuk mendapatkan kondisi ruangan yang tidak saja dingin tetapi juga sejuk secara merata, tanpa perlu  terasakan hembusan anginnya, maka sistem ducting menggunakan bahan kain perforated (bukan PU atau BJLS) – sebuah konsep teknologi dari negeri Cekoslovakia  Jumlah dan ukuran lubang angin pada ducting kain ini dihitung dan disimulasi secara cermat, agar aliran udara bisa dingin merata ke seluruh bagian ruangan, terutama area audience, dengan suara bising yang lebih rendah.

Untuk sistem tata udara dalam ruangan, diterapkanlah sistem ducting menggunakan bahan kain perforated (bukan PU atau BJLS) – sebuah konsep teknologi dari negeri Cekoslovakia

 

Sistem Tata Cahaya

Meskipun menurut ukuran ruang, Home Cinema ini tergolong kecil, namun untuk urusan pencahayaan, ruang ini mengimplementasikan  sistem “dimmable lighting control” dari Helvar Pabrikan Finlandia. Dengan system ini,  kita bisa membuat beberapa skenario ‘scene’ lampu, apakah untuk mode Cinema, mode High End, mode terang benderang dan lain-lain. Perubahan dari satu scene ke scene lainnya bisa dibuat secara transisi dengan tempo perubahan yang bisa diatur seketika, agak cepat, lambat atau sangat lambat.

Di lighting, menerapkan konsep sistem “dimmable lighting control” dari Helvar dimana kita bisa membuat beberapa skenario ‘scene’ lampu, apakah untuk mode Cinema, mode High End dan lain lain.

Kesan Tonton

Untuk sebuah home cinema, ruangan ini bisa dibilang tidak terlalu luas, apalagi dengan speaker-speaker yang dipasang menggantung di dinding kiri-kanan, membuat kesan ruang sedikit menyempit jika dilihat dari sisi belakang.

Ruangan ini (sementara) menyediakan satu baris sofa yang dapat memuat tiga orang. Apakah titik lokasinya merupakan titik best spot untuk menyimak suara film khususnya?  Untuk itu, Handy Widjaya dari PT. ESSI membawa sebuah kursi kecil dan meletakannya di tengah depan dari sofa yang ada, sekedar untuk perbandingan kesan suara yang muncul.  Setelah itu, Handy pun memutar film Blu-ray 4K, yakni John Wick Chapter 4-nya Keanu Reeves. Lalu Mission Impossible : Fall Out-nya Tom Cruise dan Gran Turismo, khususnya di beberapa scene action. Kami mencoba menonton bergantian dari kedua posisi duduk ini.

Dua posisi duduk yang kami tertarik ujicobakan. Kursi kecil itu adalah kursi sementara yang sengaja kami bawa sekedar untuk membandingkan saja. Foto kanan : Hardy Nanda.

Dalam urusan gambar, sudahlah terjamin bagus, karena mainnya sudah di 4K(yang 4 kalinya resolusi full HD itu). Videonya 4K, playernya 4K, proyektornya sudah 4K, layarnya pun mampu menampilkan dengan maksimal gambar 4K. Prosesornya pun memang special 4K. Maka gambar pun tampil sangat detil, warna yang tersaji alami. Warna dominan seperti merah dan hijau, disajikan dengan begitu kuat seperti dalam pakaian, atau cat mobil. Detil paras apalagi, ketika di shoot dekat, sampai jerawatnya pun ketahuan. Apalagi di helaian rambut. Ini tentu kian menambah pengalaman tonton.

Oh ya, sekedar pengingat. Resolusi 4K mengacu pada gambar dengan sekitar 4.000 piksel secara horizontal. Seorang teman lebih suka menyebut 4K dengan kata 2160p. Ya sama saja, karena angka ini mengacu pada jumlah piksel vertikal pada gambar 4K. Dahulu video full HD digambarkan sebagai gambar sebening kristal. Kini, ungkapan itu sudah digeser oleh video 4K.

Bagaimana dengan  suaranya? Kalau dari kami, entah mengapa langsung tertarik akan bagaimana kesan clarity dan kedinamikaan suara. Yang terakhir ini, tergodalah kami untuk mengamati seberapa gesit sistem bermain (karena yang diputar film film action), dan bagaimana daya impact dengarnya. Ini tentu bisa saja dikaitkan dengan seberapa baik bass yang didengar. Maklumlah, di sisi bass, dari pengalaman sebelumnya saat menonton home theatre, kami sering dibuat kurang nyaman dengan setting bass yang berekor, mblobor, tak punya definisi, apalagi yang boomy.

Satu hal yang menarik, sistem speaker terasa sangat terkontrol. SLS mampu didrive dengan baik oleh amplifier MCIntosh. Ini bisa dirasakan seperti saat merasakan dengan jelas repro artikulasi konten dari sumber, tanpa membuat lelah telinga karena terdistorsi. Sajian frekuensi high dan low terkesan  seimbang. Kita bisa merasa dekat dengan objek gambar, walau dengan layar yang tidak terlalu besar dan jarak tonton yang lumayan (jarak ini tentu sudah merupakan perhitungan tersendiri oleh ESSI, karena ESSI kami kenal sangat ‘perhitungan’ dalam membuat ruang.

Ternyata di posisi duduk dengan kursi kecil tadi, suara tertata lebih rapih, baik dalam hal dialog ( artikulasi lebih jelas), juga dari segi repro bass yang terasa lebih solid, definitif, tetapi tetap terasa responsif, dan berdinamika.  Di kedua posisi ini, kami dapati tampilan dengan clarity yang baik. Speaker sanggup menyajikan artikulasi yang jelas, termasuk di dialognya yang punya inteligibility baik, tanpa ada distorsi -sehingga claritynya bisa dibilang bagus. Inilah yang kami rasa membuat tampilan suara terkesan natural dan yang menonton seperti hadir di tengah-tengah scene film.

Speaker SLS, dapat didrive dengan baik oleh sistem McIntosh

Hanya saja ekspektasi kami mengatakan ingin lebih. Biasalah, manusia kadang tak cepat puas. Saat perkelahian seru di sebuah bar dan diskotik di film John Wick, juga saat kejar kejaran di film Mission Impossible ataupun balapan di Gran Turismo, berharap efek bassnya lebih kencang, tebal, dan lebih ‘nendang’, biar terasa lebih seram dan lebih melibatkan. Tetapi kami sadar, mudah saja sistem diset demikian, tetapi ini tentu akan mempengaruhi scene-scene lainnya, yang bisa jadi terasa over dan tidak alami. Terkesan di-boost, menjadikan banyak ‘lipstik’ di sana sini, yang bisa membuat kesan suara jadi ambyar. Maka, cukuplah dengan kesan yang ada kini, toh kesan suara surroundnya tampil smooth, lincah mengalir, dan terasa kesan imersif  dengan efek suara film yang dapat mengalirkan emosi tonton.

Mari kita lihat rekaman video berikut, yang kami rekam dalam format gambar 4K (dari format 4K ponsel ke Full HD)  yang kami ambil langsung dari kamera ponselnya Sharp Sense8.  di link : https://youtu.be/-8ummbMShWg

Ada pelajaran yang kami ambil dari ruangan ini, yakni bahwa  dari sisi kedinamikaan suara, kita dapat mengamati bagaimana repro suara dengan transien yang sangat tinggi. Bass yang gesit dan punya definisi. Dan yang penting adalah, bass ini tidak sampai terasa memekakkan telinga. Satu yang masih kami dapati di tingkat ‘average’ di ruang ini adalah kemegahan suara. Ah, mungkin ini dipengaruhi oleh kesan suara dari kunjungan kami sebelumnya yang isinya sistem dengan kelas harga berapa kali lipat dari sistem di ruang ini.

 

Yang  kami syukuri adalah, dapat menikmati sajian film film kencang tanpa telinga merasa kelelahan, bahkan saat keluar ruangan sejam kemudian, tak terasa ada yang aneh ditelinga.  Saat kami putarkan album liveshownya   Freddy Mercury, terasa vokal Freddy dan tampilan instrument kurang dinamika. Ya, rekamannya rekaman biasa di sisi suara. Maka, akan lebih baik bila sang pemilik mengoleksi film yang rekamannya dibuat serius. Sempat kami ngobrol dengan Hardy Nanda, yang juga timnya PT. ESSI,

“Memang ruang ini sementara untuk film khususnya, bukan untuk musik, dan bukan untuk surround jaman dahulu yang 5.1 atau 7.1. Buat yang sudah Atmos. Kalau musiknya sudah Atmos, tampilnya bisa maksimal”kata Hardy.

Bagaimana ruangan ini bila dibandingkan dengan ruang lain yang pernah dibuat PT ESSI? Satu kata saja bagi kami,   ruang ini tampil lebih galak dalam melibatkan penontonnya. Bisa saja ruang ini adalah ruang film di rumah yang terbaik yang pernah didesain ESSI. Sebuah penilaian yang sifatnya subjektif tentu.

 

 

 

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *