
“Mengapa Trinnov masih bertahan dengan CPU Intel”tanya Tom Garret
Pertanyaannya terkesan sederhana memang, tetapi jawabannya ternyata memberi pencerahan bagaimana fondasi seluruh filosofi Trinnov selama hampir dua dekade. Jawaban Tom justru tidak dimulai dari komputer. Ia memulainya dari suara.
“Suara adalah matematika. Bila kita melihat suara dalam bentuk yang paling mendasar, sebenarnya suara hanyalah matematika.”kata Tom sambil menjelaskan bahwa gelombang suara merupakan fenomena fisika yang dapat diterjemahkan menjadi persamaan matematika. Setiap nada, setiap pantulan ruangan, setiap fase speaker, seluruhnya dapat dihitung secara matematis.
Kalimat itu diucapkan Tom Garret dari Trinnov Audio sambil tersenyum kepada para undangan acara Altitude CI Dealer Demonstration & Level One Training Altitude 32/16/CI , dimana yang hadir pada umumnya adalah para partner Tasindo Audio – pemegang lisensi pemasaran produk Trinnov Audio di Indonesia. Sebagai tamu, adalah Tom Garret dan Joseph Chen. Auvindo menghadiri hari pertama acara ini di tanggal 27 Juli 2026 di Hotel Mercure, Pantai Indah Kapuk, Tangerang. Acara untuk para dealer Tasindo ini akan berlangsung hingga 28 Juli 2026 (hari ini).
Tom Garret adalah International Sales Manager sekaligus Global Business Development Director di Trinnov Audio, dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di industri elektronik konsumen. Ia bertanggung jawab mengembangkan pasar audio high-end dan sistem audio multikanal di berbagai negara, menyelenggarakan pelatihan tingkat lanjut bagi dealer, serta mempromosikan teknologi sistem bioskop imersif 3D yang menjadi andalan Trinnov Audio.
Kembali ke laptop, ya – suara dikatakannya adalah matematika. Persoalannya, perhitungan itu sangat rumit. Semakin banyak speaker yang digunakan, semakin banyak pula operasi matematika yang harus dilakukan secara real time. Ditambah lagi proses decoding Dolby Atmos, DTS, Auro-3D, crossover digital, bass management, room correction, optimasi fase, hingga remapping speaker khas Trinnov, seluruhnya berlangsung secara bersamaan.
Profil Altitude CI
Walau di judul acaranya ada kata Altitude 32 dan 16, tetapi praktis bahasan di hari pertama ini dominasinya adalah di Altitude CI, karena inilah yang terbaru dari Trinnov dan juga membawa teknologi dan konsep baru. Altitude CI adalah prosesor audio-video generasi baru (prosesor untuk home cinema atau proyek cinema yang terkait instalasi lebih besar atau lebih rumit ketimbang dengan ruangan di rumah). Jadi sesuai nama dari singkatannya, CI – maka ini dirancang khusus untuk instalasi custom (Custom Integration), dengan arsitektur berbasis jaringan dan Audio over IP (AoIP) sebagai kekuatan utamanya. Prosesor ini mendukung konfigurasi 8 hingga 32 channel suara cinema— tetapi dapat ditingkatkan bertahap melalui lisensi—serta dilengkapi teknologi Dante dan AES67, decoding Dolby Atmos, DTS:X Pro, Auro-3D, dan IMAX Enhanced.

Untuk pengolahan akustik, Altitude CI menggunakan teknologi khas Trinnov seperti Optimizer, WaveForming, dan Remapping, sehingga mampu mengoreksi respons ruang, mengatur integrasi subwoofer, serta menjaga ketepatan posisi suara tiga dimensi. Dengan bentuk ringkas 2U, layar sentuh 5 inci, dan fleksibilitas koneksi analog, AES/EBU, maupun jaringan, Altitude CI ditujukan untuk sistem home theater premium, ruang media, hingga bioskop privat berskala besar. Dia menggunakan prosesor CPU dari Intel, berbeda dengan prosesor lainnya yang menggunakan DSP (Digital Signal Processor)
“Inilah alasan kami menggunakan CPU Intel,” jelas Tom. Menurutnya, DSP memang dirancang khusus untuk pengolahan sinyal digital, tetapi ketika algoritma menjadi semakin kompleks, CPU modern menawarkan ruang komputasi yang jauh lebih besar.
Kembali dari Titik Nol
Penjelasan tersebut kemudian mengarah pada lahirnya produk terbaru mereka ini, Altitude CI. Beberapa orang mengira Altitude CI hanyalah penerus model prosesor home cinema sebelumnya, yakni Altitude16 dan yang lebih berkelas lagi, model Altitude32. Tom membantah anggapan tersebut.
“Selama lima tahun terakhir kami mengembangkan Altitude CI. Ini bukan sekadar pembaruan produk lama. Kami membangun platform yang benar-benar baru.”katanya
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Menurut Tom, konsep dasar Altitude16 dan Altitude32 sebenarnya sudah berakar pada platform yang dikembangkan hampir dua puluh tahun lalu. Selama bertahun-tahun platform tersebut terus disempurnakan, ditambah board HDMI baru, diperbarui perangkat lunaknya, dan hasilnya tetap mampu menjadi salah satu prosesor home theater terbaik di dunia.
Namun perkembangan teknologi perangkat lunak membuat Trinnov memilih untuk memulai kembali dari awal.
“Kami bertanya kepada diri sendiri, bila hari ini kami merancang prosesor reference dari nol, seperti apa hasilnya?” Jawaban itulah yang kemudian melahirkan Altitude CI.
OS5, Investasi Baru untuk Pengguna Lama
Bersamaan dengan Altitude CI, Trinnov juga memperkenalkan sistem operasi generasi baru bernama OS5. Yup, inilah prosesor generasi terbaru Trinnov yang berjalan di atas platform Trinnov OS 5 dengan arsitektur hardware baru yang dioptimalkan untuk Audio over IP (AoIP), Dante, dan AES67. Sistem operasi inilah yang kemudian memunculkan teknologi Trinnov Optimizer, WaveForming, Remapping, serta dukungan Dolby Atmos, DTS:X Pro, Auro-3D, dan IMAX Enhanced, sekaligus memungkinkan peningkatan fitur melalui pembaruan perangkat lunak di masa mendatang.
Yang menarik, OS5 tidak hanya dibuat untuk produk baru. Pemilik Altitude16 dan Altitude32 juga akan memperoleh pembaruan tersebut melalui firmware setelah proses pengembangannya selesai. Menurut Tom, proyek OS5 merupakan salah satu proyek perangkat lunak terbesar yang pernah dikerjakan Trinnov.
Walaupun prosesnya memerlukan waktu cukup panjang, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh pengguna, termasuk mereka yang membeli Altitude bertahun-tahun lalu.
Pendekatan seperti ini sudah menjadi ciri khas Trinnov. Alih-alih mendorong pelanggan membeli model terbaru setiap beberapa tahun, perusahaan asal Prancis itu justru berusaha memperpanjang umur produk selama mungkin melalui pembaruan perangkat lunak.

Mengapa Pengguna Tidak Dipaksa Membeli Prosesor Baru?
Tom kemudian mengangkat satu topik yang sering menjadi keluhan pemilik AV Processor HDMI. “Satu-satunya perubahan perangkat keras yang benar-benar kami minta kepada pelanggan selama bertahun-tahun hanyalah board HDMI.”kata Tom. Pria yang membawakan acara dengan sesekali bergaya humor ini bergabung dengan Trinnov Audio pada Oktober 2016 sebagai Sales Manager pertama untuk kawasan EMEA (Eropa, Timur Tengah, dan Afrika). Sejak saat itu, ia berperan penting dalam memperluas jaringan bisnis Trinnov secara global sekaligus memperkenalkan berbagai inovasi perusahaan kepada distributor, dealer, dan para profesional industri audio di seluruh dunia
Dalam gaya presentasinya kali ini, tak jarang ia melontarkan candaan yang membuat seluruh ruangan tertawa.seperti ketika bicara tentang HDMI.
“Rasanya saya sudah hidup sejak HDMI pertama kali ditemukan.”katanya. Menurutnya, HDMI merupakan teknologi yang terus berubah. Setiap beberapa tahun muncul standar baru, mulai dari resolusi video, HDR, bandwidth, hingga fitur gaming.
Perubahan tersebut hampir selalu mengharuskan produsen mengganti perangkat keras. Namun Trinnov berusaha membatasi perubahan itu hanya pada modul HDMI. CPU, perangkat lunak, algoritma Optimizer, hingga keseluruhan platform tetap dipertahankan. Dikatakannya bahwa Trinnov percaya sebuah produk harus memiliki umur yang panjang. Kalimat inilah yang boleh jadi menjadi inti filosofi Trinnov.
Intel vs DSP
Dalam pembicaraannya, Tom lalu mengajak kembali menyinggung soal DSP diatas. Dia bertanya, seberapa besar keuntungan menggunakan CPU Intel? Tom memberikan ilustrasi yang cukup mengejutkan. Dia bercerita bagaimana Altitude miliknya di rumah telah berusia sekitar empat belas tahun. Namun CPU Intel di dalamnya, menurut Tom, masih memiliki tenaga komputasi sekitar sepuluh kali lebih besar dibandingkan DSP modern yang saat ini digunakan banyak prosesor AV.
CPU yang digunakan pada Altitude generasi terbaru bahkan memiliki kemampuan jauh lebih tinggi lagi. Perbedaan tersebut menjadi penting karena Altitude32 mampu memproses hingga 48 kanal audio secara simultan. Empat puluh delapan channel! Tentu ini bukan sekadar angka besar. Setiap channel atau kanal ini dikatakan Tom menjalankan filter FIR dan IIR, koreksi fase, delay, bass management, pengaturan crossover, serta algoritma Trinnov Optimizer secara bersamaan. Beban komputasinya sangat besar. Karena itulah Trinnov lebih memilih menggunakan arsitektur komputer dibandingkan DSP tradisional.
Menghindari Kompromi Digital
Keunggulan CPU Intel ternyata tidak hanya soal kecepatan. Tom juga menjelaskan bahwa arsitektur tersebut memungkinkan Trinnov memproses audio dengan presisi internal yang jauh lebih tinggi.
Ia menyinggung dua istilah teknis yang sering luput dari perhatian pengguna, yaitu bit-depth truncation dan sample-rate conversion. Dalam banyak perangkat digital, proses konversi sample rate atau pemotongan kedalaman bit dapat menimbulkan kehilangan informasi audio apabila dilakukan dengan kualitas yang kurang baik. Dengan tenaga komputasi yang sangat besar, Trinnov dapat mempertahankan presisi perhitungan selama proses internal berlangsung sebelum sinyal dikirim ke DAC. Pendekatan ini menjadi salah satu alasan mengapa karakter suara Trinnov dikenal tetap transparan meski menjalankan pemrosesan digital yang sangat kompleks.
Semua Berawal dari 44,1 kHz
Sebagai penutup bagian dari paparan dan ‘renungan’ Auvindo setelah mendengar paparannya selama 17 menit sejak kedatangan kami (yang agak telat) ini, kami lihat Tom mengajak peserta kembali bicara tentang dasar audio digital.
“Sample rate paling terkenal adalah 44,1 kHz, yaitu CD Audio. Kemudian Blu-ray menggunakan 48 kHz.”
Dari konsep sederhana itulah pembahasan kemudian berkembang menuju bagaimana sebuah prosesor harus menangani berbagai format digital modern tanpa mengurangi kualitas sinyal sedikit pun. Sambil tersenyum ia kembali melontarkan candaan.
“Mulai sekarang pembahasannya akan semakin teknis. Anggap saja kita sedang berada di pesawat, jadi silakan pasang sabuk pengaman.”, katanya, melahirkan tertawaan kami tentu.
Namun setelah itu, pembahasan benar-benar masuk ke wilayah yang tampanya hanya bisa dijelaskan oleh para insinyur digital audio.
Ini Alatnya Audiophile Juga?
“Apakah prosesor home theater berbasis jaringan seperti Altitude CI ini juga boleh disebut sebagai perangkatnya audiophile?”tanya Tom.
Jawabannya cukup mengejutkan. “Ya… dan tidak.”kata Tom. Alih-alih langsung menjelaskan alasannya, Garrett malah mengajak peserta memahami lebih dulu mengapa dunia audio digital selalu dipenuhi kompromi antara kualitas suara, kemudahan instalasi, dan stabilitas sistem. Bagi Garrett, memahami hubungan antara sample rate, bit depth, hingga teknologi Audio over IP adalah kunci untuk mengerti filosofi di balik lahirnya Altitude CI.Tom lalu mengajak peserta memandangnya dari sisi sample rate.
Garrett menjelaskan bahwa dunia audio digital mengenal berbagai sample rate. CD menggunakan 44,1 kHz, sementara Blu-ray umumnya bekerja pada 48 kHz. Format audio resolusi tinggi berkembang hingga 96 kHz bahkan 192 kHz.
Namun kualitas digital tidak hanya ditentukan oleh sample rate. Faktor lain yang sama pentingnya adalah bit depth. CD menggunakan resolusi 16-bit, sedangkan format audio modern mampu mencapai 24-bit sehingga membawa informasi musik jauh lebih banyak. Semakin tinggi sample rate dan bit depth, semakin besar pula beban pemrosesan yang harus ditangani prosesor digital (DSP).
“Sebagian besar DSP di pasaran akhirnya menyederhanakan semuanya ke 48 kHz karena keterbatasan daya proses,” jelas Garrett. Di sinilah ‘beda gaya’ lainnya yang ditampilkan Altitude CI. Berkat penggunaan CPU berperforma tinggi, Trinnov mampu memproses data audio beresolusi tinggi tanpa harus selalu mengorbankan kualitas sejak awal.
Garrett juga mengingatkan bahwa sepanjang sejarah audio digital pernah digunakan beberapa sample rate lain seperti 32 kHz untuk siaran digital dan internet radio, serta 88,2 kHz pada era DAT (Digital Audio Tape) berkecepatan ganda.
Menurutnya, semua itu menunjukkan satu hal. “Di dunia audio tidak ada solusi yang benar-benar sempurna. Selalu ada kompromi.”
Jawaban tersebut bukan karena kualitas Altitude CI diragukan, melainkan karena desain produk ini memang ditujukan untuk memenuhi dua kebutuhan sekaligus: performa audio kelas referensi sekaligus kemudahan instalasi modern berbasis jaringan.
Audio over IP: Masa Depan Instalasi Audio?
Nah, inilah salah satu lainnya dari Altitude CI. Dia mengandalkan jalur jaringan/network ketimbang kabel. Peserta terlihat sangat ingin tahu kenapa Trinnov memilih konsep ini. Untuk menjelaskan konsep tersebut, Garrett membawa audiens kembali ke tahun 1996 ketika ia bekerja di sebuah perusahaan teknologi di Cupertino, California. Saat itu mulai diperkenalkan CobraNet, salah satu teknologi pertama yang memungkinkan distribusi audio melalui jaringan Ethernet. Teknologi inilah yang kemudian berkembang menjadi berbagai standar Audio over IP seperti Dante, AES67, dan Ravenna.
Dengan Audio over IP, sinyal audio tidak lagi harus dikirim melalui kabel analog atau AES/EBU satu per satu. Cukup menggunakan kabel jaringan CAT5 atau CAT6 menuju switch Ethernet, puluhan bahkan ratusan kanal audio dapat didistribusikan secara bersamaan.Bagi instalator, pendekatan ini jauh lebih sederhana dan efisien.
Namun Audio over IP memiliki tantangan tersendiri. Masalah muncul ketika sumber audio berganti-ganti. CD bekerja pada 44,1 kHz, Blu-ray pada 48 kHz, layanan streaming bisa 96 atau 192 kHz, sementara internet radio bahkan hanya 32 kHz. Jika seluruh perangkat dalam jaringan harus mengikuti perubahan sample rate tersebut secara real time, sistem menjadi kurang stabil.
Karena itulah sebagian besar sistem Audio over IP memilih menggunakan satu sample rate tetap—biasanya 48 kHz atau 96 kHz. Semua sumber audio kemudian dikonversi menuju sample rate yang sama melalui proses Sample Rate Conversion (SRC).
Pendekatan ini sangat disukai dunia profesional seperti studio rekaman dan konser karena menghasilkan sistem yang jauh lebih stabil.
“Di dunia live sound, kestabilan jauh lebih penting daripada mengejar kualitas absolut,”kata Garrett. Sebaliknya, menurutnya sebagian kalangan audiophile kurang menyukai proses SRC karena menganggapnya sebagai langkah tambahan yang berpotensi memengaruhi kemurnian sinyal digital.
Fleksibel Memilih Jalur Audio
Dari paparan Garrett, kami jumpai di bagian ini, bagaimana Altitude CI punya keunggulan, yakni pada kefleksibilitasannya. Prosessor ini menyediakan tiga jalur keluaran sekaligus:
- 8 kanal analog output
- 32 kanal digital AES3/AES-EBU
- 32 kanal Audio over IP (Dante)
Yang menarik, ketiganya dapat digunakan secara bersamaan! Cakepp! Sebagai contoh di saat presentasi di acara ini, Trinnov menggunakan output analog untuk subwoofer, sementara seluruh kanal lainnya dikirim melalui Dante dengan sample rate tetap 96 kHz. Pendekatan ini memungkinkan pengguna memperoleh keuntungan instalasi berbasis jaringan tanpa harus kehilangan fleksibilitas memilih jalur sinyal terbaik sesuai kebutuhan.
DAC-nya Sama dengan Altitude 16 dan Altitude 32?
Di kesempatan ini, Garrett menepis anggapan bahwa Altitude CI menggunakan kualitas DAC yang berbeda. Board Digital-to-Analog Converter pada Altitude CI ternyata identik dengan yang digunakan pada Altitude16 maupun Altitude32. Dengan kata lain, ketika menggunakan output analog, kualitas konversi digital-ke-analog ketiga produk tersebut pada dasarnya berada pada level yang sama.
Menariknya lagi, DAC tersebut juga digunakan pada lini produk profesional Trinnov untuk studio rekaman. “Jika sudah cukup baik untuk studio rekaman, seharusnya juga cukup baik bagi seorang audiophile,” kata Garrett.
Sistem Operasi Baru yang Lebih Bertenaga
Di penghujung bahasan Auvindo ini (berdasarkan apa yang kami dengar pada sekitar 25 menit paparannya dari sejak awal), Garrett kembali menyinggung sistem operasi terbaru Trinnov yang dikembangkan khusus untuk Altitude CI yakni OS5.
OS baru ini dibangun di atas arsitektur Linux yang sepenuhnya baru sehingga menawarkan performa lebih tinggi, struktur software yang lebih modern, serta ruang pengembangan fitur yang jauh lebih besar.
Kabar baiknya, sistem operasi tersebut juga akan hadir untuk Altitude16 dan Altitude32 melalui pembaruan perangkat lunak. Namun ada konsekuensinya. Karena perubahan arsitektur sangat mendasar, seluruh konfigurasi lama tidak lagi kompatibel. Pengguna harus melakukan proses kalibrasi ulang setelah melakukan pembaruan. Meski demikian, menurut Garrett, peningkatan performa yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kalibrasi kembali.
Kesimpulan
Dari sebagian dari paparan Tom di sessi pertama (sebelum break makan siang), khususny tentang Altitude CI, Trinnov tampaklah bahwa Trinnov Audio bukan sekadar meluncurkan prosesor AV baru. Mereka sedang memperkenalkan generasi platform next generation yang dibangun dengan filosofi berbeda dari sebagian besar platform yang dibangun oleh industry home cinema lain belakangan ini. Di akhir sessi pertama, Auvindo ingin menanyakan perihal, pendapatnya tentang transformasi home cinema masa depan dan pandangannya tentang pasar home cinema di Indonesia, dan lain lain, tetapi terlihat Tom sangat sibuk.
Kami sempat berpikir, di saat banyak produsen berlomba menghadirkan model baru setiap beberapa tahun, Trinnov justru menempatkan umur produk sebagai salah satu nilai utama. Perangkat keras dirancang untuk bertahan lama, sementara inovasi dihadirkan melalui pembaruan perangkat lunak dan peningkatan algoritma.
Pendekatan tersebut memang tidak selalu menjadi jalan termudah. Namun bagi para pengguna yang menganggap prosesor AV sebagai investasi jangka panjang, filosofi inilah yang membuat nama Trinnov tetap berada di kelas tersendiri dalam dunia home theater kelas referensi.
Melalui Altitude CI, Trinnov seperti ingi memperlihatkan bagaimana dunia home theater modern mulai bergerak menuju sistem berbasis jaringan tanpa meninggalkan standar kualitas audio kelas referensi. Disini Tom Garrett memang tidak tengah mencoba menyatakan bahwa Audio over IP adalah solusi sempurna bagi semua orang. Sebaliknya, ia justru menegaskan bahwa setiap teknologi selalu memiliki kompromi. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan sistem, lalu memilih jalur distribusi audio yang paling sesuai.
Fleksibilitas inilah yang menjadi kekuatan utama Altitude CI yang sebenarnya pernah diperkenalkan saat pameran IHEAC Audio Video Show dua tahun lalu di Jakarta. Oh ya, di prosesor ini, pengguna bebas memilih output analog, digital AES/EBU, maupun Audio over IP—bahkan mengombinasikan ketiganya dalam satu sistem—tanpa harus mengorbankan kualitas pemrosesan audio yang selama ini menjadi ciri khas Trinnov Audio.
Jika ingin dibahas lebih lanjut, tentu saja akan sangat panjang bahasannya, walau banyak hal berguna tentu yang bisa kita tarik dari acara ini untuk wawasa kita khususnya kepada sebuah konsep home cinema.
anyway…. Welcome Altitude CI !


