
Ini bukan Bose, tetapi KamoGa. Model keduanya boleh dikatakan mirip. Konsepnya. Pun punya kemiripan. Dan ternyata harganya mungkin tak jauh beda. Kalau ingat, Bose – sejak dulu designernya percaya bahwa speaker tidak harus berukuran besar untuk menghasilkan suara yang baik. Speaker yang kecil jauh lebih mudah dipadukan dengan desain interior rumah. Ini juga yang menjadi konsepnya KamoGa
Ya, KamoGa. Nama ini boleh jadi baru di telinga anda. Memang, merk ini bisa dikatakan mengambil peluang dari berhentinya produksi Bose akan sistem speaker satelit seperti Bose Lifestyle 650 maupun seri Cube, karena tampaknya ingin lebih memusatkan perhatiannya ke soundbar. Alhasil, muncul kekosongan di pasar speaker satelit premium seperti yang diisi model Bose tadi. Di situlah KamoGa melihat peluang. Dia masuk, sambil menambahkan beberapa kelebihan lagi diatas Bose.

Bedanya dengan Bose?
Ini pertanyaan yang kami luncurkan saat bertemu Joe Li saat menemui KamoGa yang tengah berpameran di sebuah pameran pro audio di NICE, PIK 2 tanggal 31 Juli 2026 lalu. Ini adalah pameran B2B, dan kabarnya KamoGa bertemu dengan calon dealer baru dari sejumlah kota di Indonesia seperti Bali, Surabaya, dan Medan. Beberapa dari mereka adalah pelaku usaha restoran, kafe, hingga KTV yang menunjukkan ketertarikan terhadap sistem KamoGa.
Principal KamoGa dan merk K Bubble ini punya pandangan tentang Bose, yang menurutnya dirancang agar mudah digunakan. Setelah perangkat dipasang, pengguna hanya perlu menjalankan proses kalibrasi otomatis. Sistem akan mengirimkan berbagai sinyal uji untuk mengukur karakteristik ruangan, kemudian secara otomatis menyesuaikan suara agar menghasilkan kualitas terbaik menurut setting bawaan Bose. Bagaimana dengan KamoGa?

KamoGa menurutnya memberi keleluasaan yang jauh lebih besar kepada pengguna. Selain memiliki proses setting, sistemnya juga memungkinkan berbagai parameter suara diubah secara manual melalui pengaturan equalizer (EQ). Jadi, karakter suara dapat disesuaikan dengan selera masing-masing pengguna, baik untuk dengar musik, menonton film, maupun berkaraoke.

“Apakah speaker Bose bagus? Tentu saja bagus,”kata Joe Li. “Namun yang membedakan adalah tingkat fleksibilitasnya. Pada KamoGa, pengguna bisa membentuk karakter suara sesuai keinginan.” kata Joe Li sambil menambahkan bahwa membandingkan kedua sistem secara langsung bisa saja aromanya terasa kurang fair. Misalnya, bila kedua sistem sama-sama memutar sebuah rekaman audiophile yang sama, dimana ada vokal didalamnya, hasil akhirnya bisa berbeda, karena bisa saja yang satu dipengaruhi oleh proses penyetelan.
Sistem All in One
Mari sudahi komparasinya dengan Bose, dan fokus di merk ini. Ada yang beda di KamoGa. Bila banyak model speaker speaker mini/satellite yang ada. Merek asal Singapura ini menawarkan konsep all in one entertainment system. Mampu mengakomodasi home theater, karaoke, musik stereo hingga gaming dalam satu ruangan.
Wuih… untuk tiga kebutuhan berbeda. Mendisain suaranya tentu bukan pekerjaan mudah. Terlebih untuk karaoke, dimana tentu sistemnya perlu bisa mereproduksi suara vokal dengan baik. Bukankah vokal memiliki dinamika dan rentang frekuensi yang sangat rumit? Maka, bisa jadi lebih sulit ketimbang mendisain sistem untuk film dan musik. Joe juga setuju tentang ini. Menurutnya, tantangannya di KamoGa ini adalah bagaimana menghadirkan kualitas vokal yang alami dari kabinet speaker yang berukuran sangat kecil Dan KamoGa dikatakannya akan tetap mempertahankan konsep speaker satelit mini sebagai identitas produknya, tanpa berencana membuat speaker berukuran besar.
Untuk partner speaker ini, ada amplifier bermerk EMCK yang main di delapan kanal, sehingga konfigurasi maksimalnya adalah 7.1. Tetapi tidak harus 7.1, karena tergantung besar kecilnya ruangan. Kalau ruangan kecil, bisa saja pakai hanya 5.1, bahkan bisa dikonfigurasi menjadi 3.1. Fleksibel saja mainnya.

Sensasi Karaoke Layaknya Menggunakan Monitor Panggung
KamoGa system ini sudah masuk ke dapur redaksi Auvindo, dan sudah kami coba untuk fungsi film dan karaoke. Cukup unik juga bagaimana cara reproduksi suara vokal saat karaoke. Berbeda dengan sistem karaoke konvensional yang umumnya hanya menggunakan konfigurasi stereo dua kanal (kiri dan kanan), KamoGa menggunakan konfigurasi minimal 3.1 hingga 7.1 kanal. Menurut Joe, speaker tengah (center speaker) memiliki peran yang sangat penting.
Yang menarik, di center speaker tidak ada efek echo maupun reverb. Yang keluar adalah suara vokal murni. Rupanya inilah pendekatan yang dilakukan, dimana saat bernyanyi kami mendengar suara kami seperti menggunakan monitor speaker di atas panggung konser. Jadi kesan livenya terasa. Dan kalau mau juga, speaker surround di bagian samping dan belakang bisa menampilkan musik pengiring dan efek ruang.
Home Theater
Meski KamoGa didesain all in one,tetapi dari pengalaman menikmati, kami yakin paling terasa adalah home theaternya. Ini terasa juga dengan adanya 7.1 channnel yang orang kenal memang untuk home theater, kemudian mendengarkan musik, baru setelah itu karaoke.

Untuk home theatre, main di konfigurasi 7.1 di jaman now memang masih terbilang menarik karena sesuai dengan standar Dolby TrueHD untuk menyajikan pengalaman sinematik yang optimal. Menariknya disini tentu, satu sistem dapat beradaptasi mengikuti kebutuhan penggunanya tanpa harus mengganti perangkat. Jadi dia bisa jadi milik suami, istri dan anak, karena seringnya istri lebih suka karaoke dan anak ngegame.
Cukup menarik, padahal merk ini termasuk merk baru, khususnya di Indonesia tetapi di di Singapore sudah cukup dikenal dimana segmen home theater disana masih jauh lebih besar dibandingkan karaoke. Selain pegang merk KamoGa, Joe Li juga pegang merk K Bubble. Dua produk yang berbeda, tetapi ternyata dirancang untuk saling melengkapi.
“KamoGa adalah sistem audio, sedangkan K-Bubble adalah platform karaoke on-demand. Integrasi keduanya memungkinkan pengguna mengendalikan pemilihan lagu, volume mikrofon, efek echo, pergantian sumber audio hingga pengaturan amplifier langsung melalui tablet. Semua informasi volume juga ditampilkan secara real-time.”katanya. Menurutnya, tingkat integrasi seperti ini masih jarang ditemukan pada sistem karaoke rumahan lainnya.
Berawal dari Tempat Sederhana
Pada awal pengembangannya, KamoGa memang ditujukan untuk pasar rumah tinggal, khususnya di Singapura.
“Rumah-rumah di Singapura umumnya berukuran tidak terlalu besar. Selain itu, pemilik rumah menghabiskan banyak biaya untuk desain interior. Karena itu kami membuat speaker yang tidak merusak tampilan ruangan.”katanya.
Namun dalam perkembangannya, Joe melihat peluang yang lebih luas. Ia mengamati bahwa Bose sebelumnya juga banyak memasok speaker satelit untuk restoran dan ruang komersial. Karena itulah dia mulai masuk ke restoran, kafe, hingga tempat usaha yang sesekali mengadakan acara, presentasi, live music, atau karaoke. Selain itu, KamoGa kini juga menyasar ruang multifungsi di perkantoran. Menurut Joe, konsep ruang kerja modern telah berubah.
“Dulu disebut meeting room, sekarang lebih sering disebut multifunction room. Dalam satu ruangan yang sama orang bisa mengadakan rapat, menonton film, berkaraoke, presentasi, bahkan bermain game. Itulah pasar yang kami bidik saat ini.”
Kabarnya, Atlas Hi-Fi, distributor yang sebelumnya menangani Bose di Asia Tenggara, kini bekerja sama dengan KamoGa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang mencari solusi karaoke dan home entertainment.
Faktor Istri Menentukan
Di balik desainnya yang ringkas, Joe Li juga mengungkapkan bahwa proses produksi KamoGa dilakukan oleh salah satu pabrikan OEM besar di China yang selama ini juga memproduksi speaker untuk berbagai merek audio internasional seperti JBL, Bose, Vifa hingga Harman Kardon.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar untuk mengembangkan pasar Indonesia selain kualitas produk, juga memperhatikan komunikasi dan persepsi harga.
“Harga sistem 7.1 kami sekitar Rp65 juta. Bagi sebagian konsumen mungkin terlihat mahal. Namun sistem audio yang baik bisa digunakan lima hingga sepuluh tahun, bahkan lebih lama jika dirawat dengan benar.”katanya. Menariknya, ketika ditanya siapa target utama pemasaran KamoGa, Joe Li justru memberikan jawaban yang mengundang senyum.
“Bagi kami, yang paling penting adalah istri mengatakan ‘ya’. Kalau desain speakernya cantik dan istri menyukainya, biasanya suami juga akan setuju. Wife Acceptance Factor itu sangat penting.”katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan filosofi KamoGa yang tidak hanya mengutamakan performa audio, tetapi juga memperhatikan estetika agar perangkat dapat menyatu dengan interior rumah. Bagi Joe Li, kombinasi kualitas suara, desain yang elegan, ukuran yang ringkas, serta kemampuan multifungsi merupakan nilai utama yang ingin ditawarkan KamoGa kepada keluarga modern.
Untuk Ruang Ukuran Kecil dan Menengah
Melalui pengaturan EQ, KamoGa bisa menghasilkan berbagai karakter. Saat mendengarkan musik stereo, vokalis bisa terasa berada tepat di depan pendengar. Ketika menonton film, sistem ini mampu memberikan hentakan dan dinamika yang kuat. Sementara untuk karaoke, pengguna dapat memilih karakter suara yang lebih lembut sehingga nyaman digunakan bernyanyi.


