Vinyl Bicara Jujur: Kenapa Versi Asli Lebih Punya ‘Jiwa’?

Comment
X
Share
Share with your friends

Lagu, perekam dan kaver  piringan hitam boleh sama, tetapi tahukah anda bahwa suaranya belum tentu sama persis?

Ini dialami Hendra Yoga yang pernah penulis Kunjungi di rumahnya di kawasan Manahan, Solo.  Dalam bermain audio, Hendra sangat gemar mengoleksi  album re-issue (atau cetak ulang) atau bahasa kerennya, remastered, padahal dia sudah memiliki aslinya. Bagaimana beda asli dengan re-issue menurutnya?

 

Hendra memiliki banyak koleksi vinyl, diantaranya ada album yang dimilikinya adalah album asli, sedangkan sisanya tentu saja re-issue. Dalam satu album, Hendra memiliki dua LP asli sedangkan sisanya re-issue. Tidak sekedar mengoleksi, Hendra pun gemar membandingkan kualitas suara yang asli dengan yang  reissue. Keduanya ternyata berbeda. Bahkan antara yang asli dengan yang asli pun djumpainya agak sedikit berbeda !

Dijumpainya, ada rekaman yang lebih tebal, termasuk beberapa album Mandarin. Hendra pun memutarkan salah satu album asli dengan reisue. Karena kami paling suka instrumen piano, maka ketika tampil piano ini di album tersebut, langsung kami amati perbedaannya. Ternyata memang beda. Di album asli, terlihat dengan mudah, bagaimana suara ‘grand’ dari sebuah piano dalam sebuah rekaman, bisa terasakan. Piano ini pun memberikan nuansa ruang yang besar. Sementara versi re-issue kurang  dapat memperlihatkan kemegahan dan keagungan sebuah piano berkelas, sebut saja seperti merk Steinway.

Dari sini kami agak terhenyak sebentar. Rupanya jika kita memiliki sebuah album PH. Bisa saja kita kira rekamannya sudah bagus sekali walaupun ini adalah versi re-issue. Padahal jangan salah. Masih ada yang lebih baik lagi, yakni versi re-issuenya.

Kembali Yoga memutarkan album lain, yakni Strausfest, dimana dia memiliki versi re-issue dan asli. Beberapa rekaman ini adalah keluaran Living Stereo yang memiliki logo bergambar anjing ditengah setengah bulan. Kali ini kami merasa, versi re-issue lebih terasa rekaman elektronik (terlalu digital, alias agak lebih kering, kurang hangat ditelinga). Suara orang menyanyi kalah hidup dibandingkan yang asli. Akhirnya setelah lagu ini berakhir, terasalah, betapa soul keduanya berbeda. Kami coba baca kaver tanggal perilisan keduanya. Di versi non asli, ternyata ini merupakan versi re-issue yang dicetak ulang beberapa tahun lalu, sementara yang asli dibuat beberapa puluh tahun lalu.

“Saya kurang suka rekaman jaman sekarang karena terlalu digital dan kering, oktaf vokalnya pun agak naik. Kita kan kurang tahu, diambil dari mana rekamannya, atau mereka ambil masternya yang keberapa. Jadi remastered itu menurut saya  kurang baik. Tidak saja di PH, satu dua CD pun saya kumpulkan versi asli dan cetak ulangnya. Pada satu lagu yang sama tetapi lain rekaman, ternyata bedanya jauh. Di cetak ulangnya, sangat kurang luwes dibandingkan yang asli”kata Hendra

Ini tentu cukup mengagetkan juga, terlebih di banyak kaver versi remastered, banyak diterangkan tentang bagaiimana mereka menggunakan teknik perekaman yang terbilang baru, dengan beberapa konsep baru. Ternyata di mata Hendra, teknikal boleh hebat, tetapi suara kalah jauh. Ahh, membayangkan hal ini, kami jadi ingat akan bagaimana beda rasa antara sambel yang diulek sendiri dengan sambel yang dibuat dengan blender. Atau sate yang dikipas dengan tangan sendiri dengan sate yang dikipas dengan kipas angin. Ujungnya, keduanya beda kelezatan.

Beberapa album remastered LP dibeli Hendra, contohnya ketika suatu kali mengunjungi beberapa tempat atau toko piringan hitam di kota Guangzhou, Cina, beberapa tahun lalu.  Dijumpainya ternyata banyak sekali orang Cina yang menyukai musik klasik. Saat itu dia mengaku menghabiskan banyak uang sakunya untuk membeli beberapa album PH termasuk  pressing lama (album Test Pressing). Ini adalah album yang belum diproduksi massal, karena tengah diuji. Bila ternyata banyak yang berpendapat layak dijual, barulah diproduksi massal. Bila tidak bagus, ya dibuatkan master baru.  Ada sekitar 40 PH dia bawa. Tidak berat, karena dicangking dengan satu tas tersendiri. Sebagian besar harganya terbilang murah.

Mengapa Hendra begitu menyukai koleksi kedua versi ini?

“Hunting dan mengoleksi itu salah satu kesenangan dalam bermain audio. Seorang teman saya pun pernah mengatakan, simpan saja. Kedepannya bakal mahal nilainya. Beberapa album ini di Jepang tengah diburu. Saya tidak jual memang, karena tokh saya juga suka rekamannya”katanya. Rupanya dimata Hendra, PH merupakan barang yang terbilang langka dan layak dikoleksi. Menurutnya, PH merupakan barang yang tak tergantikan

Inilah keasyikan mengoleksi, salah satunya karena ada kenikmatan tersendiri kala membandingkan dua versi rekaman dalam satu album yang sama.

 

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *