Rahasia ini Jarang Diungkap Industri Audio

Comment
X
Share
Share with your friends

Hari ini kami menemukan Sebuah artikel menarik tentang DTS. Jadi ingin tahu Lebih jauh tentang format suara surround DTS karena besok rencananya diajak Sie Kek Cung, menemui salah satu ‘orangnya’ DTS.  Kami pun menemui Sebuah artikel menarik di link ini:

https://education.lenardaudio.com/en/17_cinema.html

Coba anda luangkan waktu  untuk membacanya, dan silahkan memberikan komentar di web ini atau di sosial media dimana linknya kami tempatkan.

Kami simak artikel yang cukup panjang dari Lenard Audio ini yang ternyata lebih banyak bicara  tentang dunia suara bioskop. Kami jumpai banyak sisi menarik dan  sempat membuat hati berpikir,  sapakah  selama ini  kami (dan anda mungkin) sering salah fokus? Kita sibuk mengejar layar yang makin besar, resolusi yang makin tajam, HDR yang makin silau, tetapi lupa bahwa separuh pengalaman menonton justru datang dari telinga. Gambar memang memanjakan mata, tetapi suara yang baik membuat otak percaya bahwa apa yang ada di layar benar-benar hidup.

Yang menarik, artikel ini seolah menyentil kebiasaan kita yang terlalu bangga dengan angka. Ada yang merasa sistem 5.1 pasti lebih hebat daripada stereo. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Lima speaker biasa-biasa saja belum tentu mampu mengalahkan dua speaker yang benar-benar berkualitas. Jumlah ternyata bukan jaminan kenikmatan.

Saya juga baru sadar bahwa banyak standar audio bioskop lahir bukan karena paling bagus, melainkan karena paling masuk akal secara ekonomi pada zamannya. Kompromi teknis akhirnya berubah menjadi standar industri. Agak lucu juga sih bagaimana sesuatu yang awalnya sekadar solusi darurat malah dianggap sebagai patokan bertahun-tahun.

Bagian yang paling menggelitik adalah pembahasan speaker horn. Selama ini banyak orang menganggap bentuknya kuno atau kasar. Padahal justru karena efisiensinya yang tinggi, dialog bisa meluncur sampai kursi paling belakang tanpa ngos-ngosan. Jadi, jangan buru-buru menilai speaker dari wajahnya. Kadang yang jelek di luar justru paling jago kerja.

Artikel ini juga mengingatkan bahwa ruangan adalah komponen audio yang sering dilupakan. Orang rela menghabiskan banyak uang untuk amplifier dan speaker, tetapi membiarkan ruangan memantulkan suara ke mana-mana. Ibarat membeli mobil sport lalu dipakai di jalan berlubang, potensinya tidak pernah keluar.

Ada satu pemikiran yang menurut saya sangat masuk akal: suara yang realistis ternyata membuat gambar ikut terasa lebih nyata. Mata dan telinga ternyata bekerja sebagai satu tim. Ketika audio terdengar alami, visual pun terasa lebih hidup tanpa perlu mengubah layarnya sedikit pun.

Kesimpulan saya sederhana. Dunia audio terlalu sering terjebak dalam perlombaan spesifikasi, sementara pengalaman mendengar justru ditentukan oleh banyak hal yang tidak tertulis di brosur. Penempatan speaker, akustik ruangan, kualitas rekaman, hingga proses penyetelan jauh lebih menentukan daripada sekadar jumlah kanal.

Kalau boleh sedikit nyeleneh, mungkin sudah waktunya kita berhenti menghitung speaker seperti menghitung gorengan di warung. Yang lebih penting adalah apakah sistem itu mampu membuat kita lupa bahwa suara berasal dari kotak-kotak kayu di depan kita. Saat speaker seakan menghilang dan yang tersisa hanya filmnya, di situlah teknologi sedang melakukan tugasnya dengan benar.

Bagi saya, itulah pesan terbesar dari artikel Lenard Audio. Audio yang hebat bukan yang paling keras, paling mahal, atau paling banyak speakernya. Audio yang hebat adalah yang membuat kita berhenti memikirkan audionya dan mulai larut menikmati ceritanya. Dan bukankah itu memang tujuan sebuah film?

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *