AlsyVox Botticelli X Jumpa J.Sikora di Marina Bay Sands

Comment
X
Share
Share with your friends
Tim sukses pameran

Kalau anda hanya punya 1 hari dari 3 hari pameran audio, datanglah di hari yang ketiga. Di saat itu, yakinlah sistem yang anda dengar punya performa terbaiknya selama pameran.  

Inilah pesan yang bisa jadi saran bagus bila anda tidak bisa tiap hari berkunjung ke sebuah show audio. Kian waktu berjalan, sistem akan kian panas, dan performanya pun kian membaik, ditambah setting yang kian matang.

Menarik di Marina Bay Sands

Inilah salah satu pemandangan menarik di StereoNET Asia Hi-Fi & AV Expo Singapore 2026.  Pameran 3 hari (10-12 Juli 2026) ini dikatakan Eugene Ng, Event Director, StereoNET show – menampilkan 160 merek serta mempertemukan lebih dari 40 exhibitor dan 50 perwakilan internasional. Sampai hari terakhir, menurut catatannya, berhasil mendatangkan lebih  4.936 orang pengunjung.  Ini terbilang jumlah yang lumayan bagus, terlebih  di tiap ruangan stereo, jumlah pengunjungnya relatif merata. Jarang ada  kursi yang tidak diduduki, bahkan sebagian room seperti dijejali pengunjung.   Ini pemandangan hari pertama. Di hari kedua, jumlahnya sedikit menyusut tetapi tetap ramai. Dan di hari ketiga, hari Minggu, terbilang tidak seramai dua hari sebelumnya.

Ya, Singapore, salah satu negara Asia yang ekonominya hidup.  Menapaki koridornya Orchard Road, Beach Rd, Hall City, Sommerset dan lain lain,  terasalah bagaimana  orang sibuk berkegiatan, bahkan jelang tengah malam. Dia  seperti the city that never sleeps. Tak heran, pameran perangkat mahal pun diminati banyak orang. Bisa jadi juga karena beberapa pameran seperti Singapore Hi End Asia, tahun ini batal digelar.

Mari berbagi cerita tentang show yang namanya sungguh panjang dan sulit disingkat ini, tidak sesingkat seperti Munich High End Show, CES atau JIAVS. Auvindo, media partner dari Indonesia, tertarik untuk mengupas ruangan demi ruangan, tidak sekaligus dihabiskan dalam semalam. Ini karena seperti desainer ruangan bilang, ruang musik berbeda, punya kekhasan dan keunikan berbeda.

Main ke Simplicity Control

Jalan jalan kami dimulai dari area terdepan di wing kiri.  Tampil salah satunya Simplicity Control di room 3701B. Inilah distributor yang  pegang merk MF, AlsyVox,turntable J Siforce, DS Audio, Soulution dan Albedo.  Yang menarik, ada speaker ramping AlsyVox  Botticelli X.

Posturnya  ramping dengan tinggi 1.77 meter – nyaris seukuran tinggi  rata rata kita. Speaker 3 way ini memakai konsep full range ribbon planar, dengan crossover yang dipisah diluar. Teknologi ini menggunakan diafragma pita (ribbon) yang sangat tipis dan ringan untuk memproduksi suara dengan bergerak gerak. Kabarnya, gerakannya jauh  cepat ketimbang gerakannya konus speaker biasa.  Transient response-nya dikatakan sangat cepat, Transien yang cepat ini tentu penting demi mendukung repro  instrumen yang cepat. AlsyVox menerapkan teknologi ini baik untuk tweeter, midrange dan bass, dimana seluruh rentang frekuensi memiliki karakter suara yang seragam dan koheren.

Dari  beberapa sumber, kami ketahui, speaker  ini ada di kisaran 2.8 milyar Rupiah (di Eropa dibandrol di harga sekitar €142.000)

Jika melihat spesifikasi dimana tertera tingkat sensitifitas yang di 94 dB, tentunya ini termasuk speaker yang efisien dan mudah berkawan sedunia. Frekuensi mainnya ada di 22 Hz – 40 kHz – nah patut diduga dia cukup terampil main termasuk di bass yang sangat dalam sekaligus detail, sekaligus treble yang wow, melampaui batas pendengaran manusia!

Yang jelas melihat desainnya, dia cukup unik, gaya-gaya Spanyol tetapi  kabarnya didesain oleh seorang insinyur dirgantara Italia yang sejak tahun 1980-an meneliti bagaimana speaker dipole berinteraksi dengan ruangan.

Mari tengok pendukung speaker ini,

  • Master Fidelity NADAC (digital front end)

DAC  True 1-Bit dipadu master clock berpresisi tinggi untuk meminimalkan jitter.

  • Soulution 717, 727, dan 757

Soulution 717 power amp stereo, sedangkan 727 adalah preampnya (pusat kontrol input, volume, dan penguat sinyal sebelum masuk ke 717).   Soulution 757  model phono preamplifier  untuk memperkuat sinyal dari turntable J Sikora, sekaligus mendukung berbagai kurva equalisasi analog

  • J.Sikora Reference turntable

Turntable seberat 114 kilogram ini punya empat motor penggerak yang bekerja bersamaan melalui empat belt – dan  diklaim menghasilkan putaran yang sangat stabil, torsi tinggi, dan kecepatan yang cepat mencapai putaran ideal tanpa menambah noise.

  • DS Audio Grand Master EX

Sebuah cartridge optikal phono. Termasuk kelas atasnya DS Audio – Jepang. Dialah yang membaca alur piringan hitam (vinyl) dan mengubahnya menjadi sinyal audio, tetapi yang ini dengan cara yang berbeda dari cartridge MM (Moving Magnet) atau MC (Moving Coil). Teknik optical cartridge ini tentu menarik. Jika cartridge biasa menghasilkan sinyal melalui gerakan magnet dan kumparan, Grand Master EX menggunakan LED dan photo detector. Saat stylus mengikuti alur piringan hitam, sebuah pelat tipis mengubah intensitas cahaya yang diterima sensor optik, lalu perubahan cahaya itulah yang diubah menjadi sinyal musik. Karena tidak memakai magnet maupun kumparan, massa bergeraknya lebih ringan, distorsi lebih rendah, dan noise sangat kecil.

  • Kabel Albedo Silver

Ini merk Polandia dan dikenal menggunakan konduktor perak murni (high-purity solid silver), bukan tembaga. Filosofinya adalah bagaimana meminimalkan kehilangan sinyal sehingga detail, transparansi, dan kecepatan reproduksi musik tetap terjaga dari sumber hingga speaker.

Sistem pendukung

Suara AlsyVox  Botticelli X.

Di Hari pertama, kami amati suaranya terbilang tegas, tetapi masih terkesan kaku.Apa apa diterjemahkannya dengan tegas, detil. Dan memang kami rasakan transparan dan tonal balance yang menarik.. Tetapi tetap masih belum dapat bermanja manja. Untunglah lagu yang diputar belum banyak yang menonjolkan lambaian atau lekukan halus. Instrumen perkusi masih belum memenuhi ekspektasi kami.  Dan wah, di ruangan ini tertangkap kesan, ruangan memberi gincu di bass, sehingga terkesan ada efek dengung. Kami lalu banyak berdiskusi setelahnya tentang bagaimana ruangan dapat menghancurkan kemewahan suara.

Exhibitor show ini perlu atur siasat untuk mengeliminir hal hal yang umum terjadi di pameran audio, seperti suara bocor dari tetangga, banyaknya elemen serap dan atau pantul dari ruangan (yang memang tidak didesain khusus untuk ruang audio, dimensi ruang yang bisa saja kurang ideal, khususnya di tinggi ruangan, dan lain lain. Kami yakin mereka 1-2 hari sebelum show sudah serius melakukan setting agar tampil optimal.

Sayang sekali, Simplicity Control kurang beruntung dalam mendapatkan lokasi ruangannya. Disisi depan kirinya, sering terdengar musik jeduk jeduk, ngebeat, entah dari ruangannya siapa. Maka sering jadi ill feel kala tengah asyik menikmati alunan orchestra, tiba tiba  seperti ada musik dari dunia lain.

Kembali ke laptop.   Di hari kedua kami datangi room ini lagi. Terkejut, ternyata tampilannya lebih menawan telinga- vokalnya lebih terasa alami, panggungnya terasakan besar dan transiennya lebih cepat tanpa terkesan kaku, . Cari tahu ke penjaganya, dikatakan sistem tanpa diubah, hanya memasukkan kain hitam besar bertuliskan Simplicity Control dan logo logo merk di bagian tengah. Kami yakin adanya kain ini turut berperan, disamping tentu di hari kedua sistem telah panas (semalaman tentu diputar). Imagingnya terasa lebih presisi dan akurat. Transparansinya luar biasa, walau selama di ruangan tak kami dapati rekaman rekaman cepat, jadinya berkesimpulan sendiri saja bahwa ini sistem  lebih akurat dan transparan ketimbang sensasi bass yang berlebihan atau warna suara yang hangat.

Seperti pada umumnya speaker, tentu perlu dukungan teman teman yang pas. Salah kasih kawan, hilang transparansinya, apalagi sampai berharap bisa menghilang. Kami pertanyakan bagaimana bila kita berharap dia tampil sangat dinamik menyampaikan rekaman rekaman seperti I Will Remember-nya Toto.  Musik orchestra sempat diputar, sayangnya bukan yang jenisnya menyajikan kecepatan dan dinamika, tetapi lebih kepada harmonisasi sambil kemudian diganggu suara lagu pop dari ruangan sebelah. Bocor bocor !

Jadi terpikir kembali kami akan pemikiran bahwa akhirnya sistem audio itu dibuat agar pendengar mendengar apa yang direkam oleh engineer di studio, lebih dari sekedar ingin mengamati karakter dari speaker atau amplifier. Kalau mau dibuat filosofinya, ada istilahnya – yakni  faithful reproduction—setia pada rekaman.

Sistem ini menghormati rekaman dengan membiarkannya  tampil apa adanya  tanpa mau kasih gincu. Tak mau  “membumbui” musik. Bila anda termasuk penyuka  suara yang cenderung  hangat, romantis, atau kaya akan warna, kami pikir mungkin bisa saja merasa sistem ini terlalu jujur dan analitis. Tetapi bila anda penyuka transparan, kepresisian suara, dan transien cepat,.misalnya pada saat terjadi pukulan drum, petikan gitar, atau denting piano terdengar hidup dan realistis – sistem ini bolehlah anda andalkan. Hanya saja sepertinya (apalagi karena saat main ke ruangan ini tak diputar lagu lagu dinamika tinggi jadi kurang tahu persisnya) untuk tampilan yang tebal, rekaman bernuansa ngebeat, sepertinya dia kurang piawai, kecuali anda tambahkan sub.

 

 

 

 

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *