(Artikel di bawah ini mengambil inspirasi dan pokok isi video dari Adrian Low, CEO Audio Excelence Canada diatas. menyinggung juga tentang pandangan Mark Levinson dan perusahaan milik Mark Levinson, yaitu Daniel Hertz. Video diatas adalah kesan, ulasan, serta pendapat lengkap Adrian mengenai integrated amplifier Maria 350.)
Di reviewnya terhadap Maria 350, Adrian mendapati kenyataan bahwa amplifier ini tidak diposisikan sebagai produk yang mengejar spesifikasi teknis spektakuler semata, melainkan sebagai perangkat yang berupaya memaksimalkan keterlibatan emosional pendengar dengan musik. Pengalaman mendengarnya seolah menjadi contoh nyata filosofi Daniel Hertz bahwa kualitas audio tidak selalu dapat dijelaskan sepenuhnya oleh angka pengukuran, karena ada aspek naturalitas, dinamika, dan kehadiran musikal yang lebih mudah dirasakan daripada diukur. Dalam konteks perdebatan pengukuran versus kualitas suara, Maria 350 menjadi representasi pandangan Mark Levinson bahwa telinga dan emosi manusia pada akhirnya adalah alat ukur yang sama pentingnya dengan instrumen laboratorium.
Paparan Adrian menarik, khususnya bila dikatikan misalnya dengan sebuah pertanyaan, sistem stereo yang paling menarik hati itu, apakah yang memiliki spesifikasi paling mengesankan? Atau spesifikasinya biasa saja tetapi dia paling mampu menyentuh emosi pendengarnya? Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah dalam presentasi ini, yang rupanya juga mengetengahkan apa pendapat Mark Levinson, sosok yang tentu kita sudah kenal baik, termasuk di dunia high-end audio.
Walau kini banyak merk merk audio berlomba-lomba menawarkan resolusi lebih tinggi, sampling rate lebih besar, dan tingkat distorsi yang semakin kecil, Daniel justru mengajak para pehobi audio melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Baginya, kualitas suara tidak semata ditentukan oleh apa yang terlihat di layar alat ukur, tetapi juga oleh bagaimana telinga dan otak manusia merasakan musik. Setuju tentu kita ya.
Angka, segalanya?
Selama puluhan tahun, perkembangan audio digital banyak ditentukan oleh parameter teknis. Semakin tinggi resolusi file, semakin rendah distorsi, dan semakin lebar rentang frekuensi, maka sebuah perangkat dianggap semakin baik.
Namun menurut Mark Levinson, pendekatan tersebut belum tentu menghasilkan pengalaman mendengarkan yang paling memuaskan. Ia berpendapat bahwa manusia tidak mendengarkan musik dengan alat ukur, melainkan dengan sistem pendengaran yang jauh lebih kompleks.
Karena itulah, ada kalanya dua perangkat yang sama-sama memiliki spesifikasi teknis sangat baik justru memberikan pengalaman mendengar yang berbeda. Salah satu mungkin terdengar lebih hidup, lebih alami, atau lebih membuat pendengar betah berlama-lama menikmati musik.
Perdebatan Lama: Analog vs Digital
Salah satu topik yang kerap muncul dalam pembahasan Daniel Hertz adalah karakter suara digital modern. Meskipun format digital telah berkembang sangat pesat sejak era Compact Disc, sebagian penggemar audio masih merasakan bahwa reproduksi digital terkadang kehilangan nuansa tertentu yang membuat musik terasa benar-benar alami. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa piringan hitam dan perangkat analog masih memiliki banyak penggemar hingga saat ini.
Menurut Daniel Hertz, persoalannya bukan sekadar soal resolusi atau bitrate. Mereka menilai bahwa ada aspek tertentu dalam reproduksi digital yang belum sepenuhnya mampu menghadirkan pengalaman mendengarkan yang sama seperti sumber analog.
Pandangan ini tentu mengundang perdebatan. Banyak insinyur audio berpendapat bahwa teknologi digital modern sudah sangat akurat. Namun bagi Daniel Hertz, ukuran keberhasilan tetap kembali kepada satu hal: apakah musik terasa lebih nyata bagi pendengarnya.

Teknologi C-Wave dan Upaya Menghadirkan Kembali Kealamian Musik
Untuk menjawab tantangan tersebut, Daniel Hertz mengembangkan teknologi yang mereka sebut C-Wave. Teknologi ini dirancang untuk mengolah sinyal digital dengan tujuan menghasilkan presentasi musik yang diklaim lebih alami dan lebih dekat dengan karakter suara analog. Kealamiahan ini sudah diuji dihadapan beberapa pendengar, dan kabarnya banyak pendengar dalam sesi demonstrasi memilih versi musik yang telah diproses menggunakan C-Wave dibandingkan versi digital konvensional.
C-Wave seakan ingin menunjukkan bahwa pencarian terhadap kualitas suara ideal masih terus berlangsung. Bahkan di era audio digital yang sangat maju sekalipun, para perancang audio masih berusaha menemukan cara baru untuk meningkatkan pengalaman mendengarkan.
Tak kalah menarik, ada satu pesan yang terus diulang oleh Mark Levinson: tujuan utama sistem audio adalah membuat orang menikmati musik. Pandangan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi pengingat penting bagi banyak audiophile. Tidak sedikit pecinta audio yang akhirnya terlalu fokus pada spesifikasi, pengukuran, atau perbandingan perangkat hingga lupa pada alasan awal mereka memasuki hobi ini.
Bagi Daniel Hertz sendiri, sistem audio yang baik adalah sistem yang membuat pendengar ingin memutar satu lagu lagi, lalu satu album lagi, dan akhirnya menghabiskan berjam-jam bersama musik tanpa merasa lelah.
Menyatukan Sains dan Seni Mendengarkan
Pendekatan yang diusung Daniel Hertz pada dasarnya berusaha menjembatani dua dunia yang sering dianggap berseberangan: dunia pengukuran objektif dan dunia pengalaman subjektif.
Pengukuran tetap penting karena membantu memastikan perangkat bekerja dengan benar. Namun pada saat yang sama, pengalaman mendengarkan juga tidak bisa diabaikan karena musik pada akhirnya dinikmati oleh manusia, bukan oleh instrumen laboratorium.
Di sinilah rupanya filosofi yang diusung Daniel Hertz. Mereka percaya bahwa kualitas audio terbaik lahir ketika sains dan seni mendengarkan berjalan berdampingan.
Apakah tujuan akhir sebuah sistem audio adalah mengejar kesempurnaan teknis? Ataukah menghadirkan pengalaman emosional yang membuat musik terasa hidup?
Bagi Daniel Hertz, jawabannya jelas. Teknologi hanyalah sarana. Yang terpenting adalah bagaimana musik mampu menyentuh pendengarnya. Karena pada akhirnya, nilai sebuah sistem audio tidak diukur dari angka yang tertera pada spesifikasinya, melainkan dari seberapa besar ia mampu menghadirkan kembali keajaiban sebuah pertunjukan musik ke ruang dengar kita.
Banyak insinyur audio akan lebih dekat dengan pandangan bahwa audio digital modern pada dasarnya sudah sangat akurat. Secara teori dan pengukuran, format PCM 16-bit/44,1 kHz (CD) saja sudah mampu mereproduksi seluruh rentang pendengaran manusia jika dirancang dan diimplementasikan dengan baik.
Tokoh-tokoh seperti Bob Katz, John Atkinson, dan banyak peneliti audio berpendapat bahwa sebagian besar masalah yang dulu dikaitkan dengan digital sebenarnya berasal dari kualitas rekaman, mastering, DAC, filter digital generasi awal, atau perangkat pemutar yang kurang baik.
Dari sudut pandang ini, klaim bahwa PCM secara fundamental “kurang alami” masih dianggap kontroversial dan belum menjadi konsensus ilmiah. Di sisi lain, banyak audiophile berpengalaman memang merasakan bahwa tidak semua perangkat digital memberikan pengalaman yang sama, meskipun spesifikasinya serupa.
Mereka sering menggambarkan adanya perbedaan seperti dalam hal rasa ruang (soundstage), tekstur instrumen, naturalness vokal, kenyamanan mendengar dalam jangka panjang dan keterlibatan emosional
Inilah wilayah yang menjadi fokus Daniel Hertz. Mereka tidak terlalu memperdebatkan apakah perbedaannya mudah diukur atau tidak, melainkan apakah pendengar dapat merasakannya.Sering kali orang salah paham seolah-olah Mark Levinson menolak pengukuran.Padahal pesan yang lebih tepat adalah “Pengukuran penting, tetapi pengukuran belum tentu menggambarkan seluruh pengalaman manusia saat mendengarkan musik.” Pernyataan itu sebenarnya cukup masuk akal. Misalnya tentang adanya dua speaker yang bisa sama-sama memiliki respons frekuensi yang rata, namun salah satunya terdengar lebih hidup dan lebih menarik.
Pernahkan anda mendengar sebuah ungkapan lama yang cukup terkenal: “Measure what you can, but listen to everything.”?(Ukur apa yang bisa diukur, tetapi tetap dengarkan hasil akhirnya) Sepertinya, ini bisa dijadikan sebagai titik temu antara dunia engineering dan filosofi yang dibawa Mark Levinson serta Daniel Hertz. Audio yang baik membutuhkan sains untuk membangunnya, tetapi musik tetap dinikmati dengan telinga dan emosi manusia.
Daniel Hertz Web: https://danielhertz.com/





