Cara Sehat Main Kayu untuk Ruang Musik

Comment
X
Share
Share with your friends

Orang Jawa mengenal kata ‘ngragati, ngopeni’.   Dua kata ini langsung terbentuk di hati kami kala bertemu seorang pehobi yang kini menginjak usia 72 tahun. Bahkan bukan sekedar ngragati dan ngopeni, dia juga bereksplorasi.  Eksplorasinya tambah seru ketika ditemukannya sebuah realita, bagaimana sebuah kayu bisa digunakan untuk ‘menyetel’ suara dalam ruangan audionya. Tulisan ini mencoba mengetengahkan sosok salah satu profil pehobi, tanpa banyak mengulas system dan merk perangkatnya, melainkan kepada sisi gayanya bermain audio.

 

Sebutlah pria ini dengan nama Wijaya (tentu bukan nama sebenarnya, karena dia keberatan namanya ditulis). Nah, Wijaya ini tidak saja  ngragati – alias berani membiayai bahkan sampai menginjak usia lansianya kini, tetapi dia juga ngopeni – alias merawat, mengurus dan menyayangi, tentu saja dengan sering menyambangi ruang audionya.  Kental sekali nuansa ini kami rasakan, saat awal Mei 2026 lalu berkunjung ke ruang audionya di Sukabumi.

Wijaya membawa  nuansa sayang, telaten, dan peduli  kepada alat di dalam bermain audio. Maka yang terlihat, dia jarang sekali ganti alat. Alat yang ada dia maksimalkan suaranya, dengan jalan bereksplorasi, baik di perangkat maupun ruangannya – dengan kayu.

“Asiknya main audio itu, salah satunya ya  dia itu  bisa menmunculkan rasa penasaran dengan  kita kemudian memainkan keakustikannya, seperti main kayu kayu ini, baik di sisi depan, tengah maupun belakang, seperti yang saya lakukan terakhir ini”katanya., sambil tangannya menunjuk ke barisan bilah bilah kayu mahoni  yang dipasang vertical dengan rapi, membentuk barisan

Audio jadi salah satu hobinya selain gemar berjalan kaki kemana mana, termasuk ketika menjemput kami di stasiun kereta. Dia memilih berjalan kaki, walau harus ditimpa teriknya matahari pukul 12 siang, menyusuri pasar, trotoar, aspal jalan sampai ke gang gang sebelum kemudian tiba di rumahnya. Langkahnya masih tegap dan lajunya cepat, bahkan meninggalkan l kami yang usianya 12 tahunan lebih muda ini. Sempat mengajak  kulineran khasnya Sukabumi,. Di sisi lain,  Wijaya adalah sosok pehobi senior yang suka humor, dengan gaya candanya yang kadang bikin terbahak.

Memori Masa Muda

Sebelum menyantap musik di ruangannya, Wijaya banyak bercerita banyak pengalamannya. Masih baik diingatannya seperti bagaimana dahulu dia jadi menyukai stereo di jamannya krisis moneter  melanda Indonesia – di kisaran tahun 90-an.

Selepas SMA, dia sering bekerja di malam hari sebagai tukang reparasi perangkat audio. Tak heranlah bila dia ingat betul akan model model kondang, seperti JVC 2203, lalu Philips 2205. Masih ingat bagaimana dahulu  orang merakit speaker dengan rangkaian dari model topnya Philips, tipe 8080.

“Saya dulu pernah meraakan sebagai seorang DIY, bikin sendiri.   Dulu speaker utamanya yang terpakai di 8 inch Philips 8080.  Saya ganti coil  dan kapasitor di dalam speaker ini, suaranya beda lagi”. Katanya.

Dari hobi dengar model seperti Philips 3303,  kesengsem stereo hifi karena dia sangat suka musik. Sistem pertama yang dia miliki saat  era krismon ini adalah Jadis JPL  MK II sebagai penguat untuk mendrive speaker ProAc Response 3.8. Dia ingat, bagaimana saat itu ruangannya masih belum karuan utamanya karena keakustikannya yang buruk. Tak heran, tampilan suaranya pun jauh dari yang dia harapkan. Membuatnya enggan mampir.

Tiga bulan dia tidak masuk ke ruang musiknya ini. Ruangannya saat itu memang tertutup rapat, sirkulasinya nyaris tidak ada. Terbilang lembab. Hawa ruang seperti ini berakibat kepada perangkatnya, salah satunya di speaker. Koilnya putus. Memaksanya kemudian untuk ke Jakarta,untuk menggulung ulang koil ini, dan ketemulah dia di suatu tempat di kawasan Mangga Besar.  Inilah sekilas cerita Wijaya sejauh yang dia ingat, sebelum lalu mengajak kami ke ruang audionya.

 

Ruangannya

Memasuki ruangan, pandangan mata kami  bukan ke alat  melainkan kayu. Disini kita seakan diajak masuk ke dunia kayu.  Wijaya sempat bercerita bagainaa kawannya, seorang pehobi senior Bandung, memberinya pengetahuan akan kayu ini. Pelan kemudian, dia dapati apa yang dikatakan temannya ini benar. Dia rasakan betapa bahan ini punya andil besar dalam mempengaruhi suara.  Inilah yang membangun semangatknya untuk sedikit sedikit menata keakustikan ruangannya sendiri dengan kayu ini. Selain untuk elemen akustik utama, dia gunakan kayu ini untuk menopang alat di bagian alasnya sebagai elemen peredam getaran, seperti di  rak dan beberapa alat audionya.

Dalam menambahkan atau mengurangi kayunya, tentu dia lihat apakah bahan ini bisa menampilkan apa yang dia  harapkan. Sebelumnya, dia buat lubang di posisi baru yang dia perkirakan. Pasang satu bilah, lalu amati perbedaan kesan suaranya.  Ada pengaruh signifikan dirasakannya seperti area panggung yang lebih lebar atau lebih sempit, juga lebih fokus atau sebaliknya – kian kabur. Dia amati sebaran dan  kelebaran dimensinya.   Aksi ini juga bisa menguatkan staging, menurutnya. Akhirnya dia lihat apakah satu bilah ini bisa ikut membuat suara jadi lebih nikmat, bikin lebih rileks, musical. Sebuah ritual yang sungguh dinikmatinya.

Apakah kedepannya kembali akan meneruskan coba cobanya pak?

“Kayaknya tidak. Kayunya ini sudah optimal. Jika ditambah malah lebih nyerang”katanya

Mengintip Alat

Mari intip perangkatnya.  Wijaya  memakai speaker aktif ATC 50 . Speaker ini memakai crossover aktif  dan sudah tri amp.  Wijaya  mengeluarkan amplifier didalamnya. Mengapa tidak di dalam saja? Menurutnya, ini semata agar ampli ini terbebas dari  getaran-getaran, khususnya yang bisa bikin feedback, dan dia bisa lebih mengamankan amplifier ini misalnya dengan usaha peredaman dengan kayu. . Dia gunakan peredam getar berbahan kayu karena dia yakin tiap speaker mengeluarkan getaran yang merambat di bodinya, yang menyebabkan munculnya resonansi  antara speaker dan ampli ini.  Bisa muncul feedback, hasil getaran liar.

Seperti umumnya pehobi, Wijaya memang  ingin mengurangi getaran dari boks speaker, tekanan udara internal, serta interferensi magnetik yang bisa memengaruhi kerja komponen . Hasil yang dicari biasanya adalah suara yang lebih fokus, transparan, staging lebih rapi, dan detail mikro lebih mudah muncul.

Dia pun menambahkan heatsink di amplifier yang sudah dikeluarkan ini. Penambahan heatsink juga bukan tanpa alasan. Pada sistem dengan daya besar atau dimainkan keras dalam waktu lama, perlu karakter ampli yang lebih stabil sehingga tonal balance dan dinamika suara tetap konsisten.

“Heatsink ini untuk mendinginkan panasnya. Dia tak gunakan kipas angin, tetapi ada gemuruhnya.  Ini membuat penyaluran panas masih minimalisir. Tanpa heatsink, sangat panas dan menggkawatirkan”kata Wijaya.

Di ruangan ini juga terlihat sebuah  power conditioner dengan  toroidal besar yang diatasnya bertengger tuning kayu. Kembali, ini untuk meredam getarannya.. Lalu ada preamp bertuliskan Poem Audio yang rupanya  perangkat yang memakai gaya desain mirip FM Acoustics, dan diberi nama FN Acoustics.  Sebagai source, Wijaya lebih suka memakai pemutar SACD Marantz SA15S2 (yang belakangan kami ketahui ingin dia jual). Untuk koneksi dia gunakan kabel kabelnya FM Acoustics..

Mencicipi Suara

Beberapa lagu dari beberapa album berbeda, koleksi Wijaya, kami lahap.   Sangat disayangkan, kami lupa membawa CD kami, padahal sehari sebelumnya sudah diingatkan Wijaya.

Salah satu album itu bolehlah kami tuliskan, yakni CD audiophile Jepang  The Distinctive Sound of Japan No.1 Yang kavernya dihiasi tulisan  tulisan kanji besar yang sepertinya merupakan ciri khas rilisan demo/test disc audiophile Jepang era 1990–2000-an. Rekaman ini setidaknya dapat mengungkap kualitas rekaman musik instrument tradisional yang kami dapati sangat baik, khususnya dalam hal dinamika, (mikro) detil serta timbre instrument dalam ruang akustik kayu seperti ini.  Sajiannya bersih, separasi juga rapi. Background musik tersimak hening dan detailnya halus. Ini sedtidaknya memperlihatkan kerapihan di proses mastering dan lainnya.

Di sisi lain,  tentu merupakan buah dari kayu kayu yang berjejer rapi ini. Setelah dua track selesai, mata memandang gugusan kayu ini. Lihatlah di pola pemasangannya, terpasang selang seling dengan pola yang dibuatnya sendiri. Kayu ini mudah dicopot dan pasang lagi, untuk mempermudah bila Wijjaya ingin mencoba coba.

Sedang asyiknya memandangi kayu, Wijaya sempat menyela,

“Yah, orang bilang, hidup buat apa lagi kalau tidak bisa menikmati apa yang ada di dunia”katanya.

Demikianlah, Wijaya menyuguhkan beberapa koleksi CD-nya. Dia hingga saat ini terlihat belum terjamah oleh streaming. Lebih asyik dengan CDnya. Dan dari beberapa lagu yang disajikan, kami merasa Wijaya ini sepertinya  termasuk pehobi yang suka akan rekaman yang punya nuansa bass yang  kaya. Dan untunglah, sistemnya mampu memberikan nuansa ini pula.

Jadi, inilah salah satu cara sehat main audio. Apa itu?  Bahwa kualitas suara tidak semata-mata ditentukan oleh mahal atau canggihnya perangkat audio, melainkan juga oleh bagaimana pehobi merawat, memahami, dan mengoptimalkan sistem yang sudah dimilikinya. Alih-alih terus mengganti komponen, Wijaya memilih mengeksplorasi ruangan dan mencari cara agar perangkat yang ada dapat bekerja semaksimal mungkin.

Pengalaman Wijaya menunjukkan bahwa kayu dapat dimanfaatkan sebagai sarana tuning akustik ruangan. Dengan menambah atau mengurangi bilah-bilah kayu pada posisi tertentu, ia merasakan perubahan pada lebar panggung suara, fokus imaging, dimensi, hingga tingkat kenyamanan mendengarkan musik. Eksperimen dilakukan secara bertahap, satu demi satu, sambil mendengarkan hasilnya hingga ditemukan komposisi yang paling seimbang dan musikal.

Dari Wijaya (nama samaran) ini kita juga bisa (kembali) diingatkan bahwa  treatmen akustik yang berlebihan justru dapat membuat suara menjadi terlalu agresif atau kehilangan keseimbangannya. Karena itu, pendekatan terbaik adalah melakukan perubahan secara perlahan, mengandalkan pendengaran, serta menjaga kondisi ruangan dan perangkat dengan baik. Dengan kata lain, kenikmatan bermain audio sering lahir dari proses merawat, mengamati, dan bereksperimen secara sabar.

Akhirnya, biar tidak berpanjang lebar, kami sudahi dulu bahasan kunjungan ke seorang pehobi audio yang ngragati, ngopeni dan bereksplorasi ini. Sebelum ke stasiun kereta, Wijaya sempat mengajak kami kulineran salah satu soto mie ternyaman di lidah di kotanya, dan membawakan satu oleh oleh khas, moci!

 

 

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *