Bermain di High Endnya Home Theater

Comment
X
Share
Share with your friends

Main home theatre, tidak saja layarnya harus besar, tetapi gambarnya juga harus benar, setidaknya dimata seorang videophile. Tak ubahnya seperti hobi stereo hifi, yang bila di telinga audiophile, suara harus benar dan akurat.  Inilah obrolan kami dengan Kim Tjeng di suatu pagi tanggal 15 Mei baru lalu. Kami bicara tentang layar dan proyektor dan di baris belakang obrolan, Pak Kim sempat menyatakan pandangannya tentang tampilan gambar rata rata bioskop yang dia pernah jumpai di negeri kita. Gambarnya dikatakan under spec (dibawah standar).  Mengapa?

 

Awalnya, Kim sharing singkat tentang pengalamannya memasang sebuah  sebuah proyektor high end bermerk Barco di salah satu kliennya. Model proyektor ini Freya MK2,  merupakan proyektor True 3 RGB laser DCI compliance dan bermain di 7500 lumen. Panjang layarnya  4.2 meter dan memakai proyektor Sony yang 5.000 lumen.

Barco Freya MK2 diklaim sebagai proyektor DCI pertama dunia dengan klasifikasi RG2, dan menyediakan integrasi yang mudah dengan aplikasi di rumah. Di fiturnya menampilan chipset 4K DLP dari Texas Instruments dan dikatakan memiliki Barco Alchemy ICMP (Integrated Cinema Media Processor).

Kim bercerita tentang Poyektor Barco versi DCI Holywood yang punya 3 laser  (merah, hijau dan biru)  ini yang langsung diarahkan ke chipnya (tidak pakai media lain). Ini membuat gambarnya lebih tajam dan warnanya lebih menarik dibanding banyak proyektor biasa. Barco juga punya model proyektor yang untuk layar sepanjang 7 meter, bahkan 12  meter(dengan brightness di 13.500 lumen, seharga 200 ribu USD) dan untuk 15 meter yang brighnessnya sampai 33 ribu lumen.   Nah, memang berapa lumen, disesuaikan panjang dan lebar ruangan, dan akhirnya ditentukan juga tentu kepada besar ruangan.  Ini proyektor proyektor kelas high end yang bahkan sanggup berkompetisi dengan proyektor untuk bioskop pada umumnya.

Beberapa lensa hi end Cinema grade dari Barco yang menjadi koleksi Kim. Tetapi yang dia jual adalah versi Barco Residential untuk rumah. Spesifikasi dan gradenya diatas Barco Cinema ini

Obrolan lalu membelok kepada bagaimana proyektor dan layar yang kini banyak digunakan di gedung bioskop. Kadang seorang pehobi film di rumah tentu ingin berkaca dari tampilan yang ada di gedung bioskop. Tetapi, bagaimana dengan banyak bioskop yang ada kini, apakah sudah layak dijadikan referensi di sisi gambar?

Menurut Kim, masih belum bisa dijadikan referensi. Mengapa, karena rata-rata lebih condong spesifikasinya masih dibawah standar.  Ini dikatakannya  karena dia melihat, gambar yang tersaji  terlihat redup redup dan memakai layar yang boleh dikatakan ‘abal-abal’. Bisa saja mungkin bermain di gain 4. Menurut anda (apalagi bila anda adalah seorang videophile) bagaimana?  Apakah anda  merasakan gambarnya buram dan pada menonton yang lama, akan merasa pusing, atau bisa saja malah enakan tidur? Hal ini menurut Kim, pernah dialaminya. Bahkan pernah dia malah memilih tidur di ruangan bioskop.

Foto kenangan saat IHEAC Show. Ada nama beberapa merk yang dipegang oleh Kim Tjeng di Kartajaya, termasuk prosesor video.

Menurut Kim, rata-rata layar bioskop disini, punya panjang 12 meter, dan proyektornya cuma yang 8.000 lumen, ini berakibat kepada gambar yang kurang terang.  Lensanya juga kurang memadai. Mengapa tidak membeli lensa yang bagus saja? Ditengarahi ini karena pemiliknya main hitung-hitungan ketat, misalnya dalam menghitung modal kembalinya (BEP).

Proyektor yang digunakan dimatanya masih punya kelemahan, sehingga pemiik merasa perlu memperkuat gambar sampai berapa kalinya, supaya terasa terang di mata penonton. Tetapi akibatnya terjadi hotspot atau terang di tengah. Jika kita kebetulan duduk di samping,  maka gambar akan terlihat lebih gelap.

Wah, beda daya analisa mata ternyata. Bayangkan, kita yang penonton biasa dan bukan videophile ini, tentu sulit untuk bisa  merasakan hal ini. Tak ubahnya seperti di stereo rumah, dimana kita jika adalah seorang music lover, cukup sulit bila ingin mendudukan diri sebagai seorang audiophile, yang tentu jeli memandang suara dan telinganya lebih kritis. Tak ubahya tentu dengan seorang  videophile, dimana matanya tentu kritis.

Untuk bisa mengamati seperti seorang videophile mengamati, tentu perlu ‘belajar’ dan melihat obyek obyek gambar dengan kritis. Hanya saja, untuk bisa belajar itu bisa saja harganya tidak murah, karena perlu alat yang harganya super. Perlu modal kencang juga untuk memilikinya. Sebut saja seperti perangkat video prosesornya yang pernah dipasang Kim di rumah kliennya, bisa mencapai  250 juta Rupiah. Layar bisa sampai 100 juta (merk Stewart), dan proyektornya sampai 2.4 milyar (Barco). Tetapi, belajar juga bisa dari rumah teman yang punya ya. Atau saat pameran dan bila kita ke gerai penjualnya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *