Mengapa Pilihannya ke O Audio ?

Comment
X
Share
Share with your friends
0-3840×2160-0-0-{}-0-24#

Memilih Karena Pengalaman Dengar sendiri

Pernahkah anda bertanya, mengapa seorang pebisnis audio high end memilih merk tertentu untuk mereka pegang pemasarannya  di Indonesia? Pertanyaan ini sekilas kurang menarik bila anda ajukan ke pebisnis yang murni hanya pedagang tanpa perlu menyukai benar musik Mungkin saja menganggap musik sebagai bisnis kedua. Tetapi tidak bagi Z, sebut saja inisialnya demikian.  Dari obrolan Auvindo dengannya kemarin (10/09/2026) di rumahnya di kawasan BSD, yang sekaligus demo roomnya Phantom Audio – terasa dia benar benar memahami pilihannya, seleranya dan bagaimana dia menekuni hobi sekaligus bisnisnya ini.

 

Phantom Audio memang telah pernah anda kunjungi saat pameran IHEAC Show, dan kembali anda bisa menemuinya nanti di JIAVS 2026 Show tanggal 5-7 Nopember 2026 di Fairmont Jakarta. Nah, mari mengenal dia dengan pemikirannya, idenya dan beberapa hal yang dia ungkapkan ke kami.

Phantom Audio pegang beberapa merk, Aries Cerat, O Audio dan satu dua merk lain. Kembali kepada apa yang kami tulis di atas, jadi bertanya, mengapa Phantom memilih O Audio yang desainnya terbilang unik dan beda dengan banyak model high end audio lainnya.

0-3840×2160-0-0-{}-0-24#

Cara Tersendiri dalam memilih merek.

Saya sebenarnya sudah beberapa kali bertemu Phantom Audio melalui pameran IHEAC. Namun jauh sebelum itu, Z pernah mengundang saya ke rumahnya di kawasan BSD. Saya masih ingat ketika masuk ke ruang audio yang dirancang dan dibuatnya sendiri ini,salah satu  yang menarik perhatian adalah material akustik yang digunakan. Menurut Z, material tersebut masih jarang digunakan pada banyak ruangan home theater maupun ruang musik di Indonesia.

Obrolan kami kali ini kembali membawa saya pada persoalan yang tampaknya sangat dekat dengan dunia Z: yakni ruangan.

Menjelang JIAVS 2026, kami banyak berbicara tentang pengalamannya menggarap sistem stereo di kamar hotel pada pameran sebelumnya. Menjinakkan akustik kamar hotel jelas bukan pekerjaan gampang. Apalagi sebuah suite room memiliki furnitur yang tidak selalu bisa dipindahkan seenaknya. Ada meja besar di bagian belakang ruangan yang tetap harus berada di tempatnya.

Di JIAVS 2026, Phantom Audio bahkan berencana menggunakan speaker yang lebih kecil. Salah satu pertimbangannya adalah akustik ruangan sekaligus posisi duduk. Z hanya memiliki waktu sekitar satu hari untuk melakukan setting setelah seluruh peralatan di-unloading. Dan bagi sistem kelas seperti yang dibawanya, waktu satu hari tentu terasa sangat singkat.

Di sisi lain, seperti juga dialami para exhibitor pameran lain, yakni saat membawa produk, khususnya yang berbobot berat.  Speaker Aries Cerat yang nanti akan dihantar saja sudah sangat berat. Kemudian ada preamp dengan bobot sekitar 120 kilogram. Phono stage-nya bahkan sekitar 150 kilogram. Jadi kalau melihat Z masih mondar-mandir melakukan setting ketika pameran sudah berjalan, saya rasa itu bukan karena ia belum selesai bekerja. Bisa jadi memang begitulah cara dia mencari suara yang menurutnya benar.

Dan dari pembicaraan soal sistem itulah nama O Audio kembali muncul.

Bukan horn biasa

Z melihat O Audio sebagai speaker yang menarik karena bisa bekerja dengan amplifier tube maupun solid-state. Bahkan dalam kondisi tertentu, ia mengaku lebih menyukai O Audio ketika dipasangkan dengan solid-state.

Ini cukup menarik karena O Audio menggunakan teknologi horn. Tetapi jangan langsung membayangkan horn konvensional dengan sensitivitas 100 dB atau bahkan lebih. Menurut Z, sensitivitas O Audio berada di sekitar 93–94 dB. Jadi, meskipun menggunakan teknologi horn, karakter dan kebutuhan amplifikasinya tidak persis sama dengan horn konvensional.

“Ini horn, tapi bukan seperti horn biasa,”. Demikian kira-kira begitu gambaran yang saya tangkap dari penjelasannya. Ini bisa jadi salah satu alasannya kenapa dia pilih O Audio. Unik, dan bukan sekedar spesifikasi yang terasa oke, tetapi juga kemudahannya dalam berkawan baik tube atau solid state.

Horn pada O Audio juga menggunakan carbon fiber. Sementara bagian woofer di bawahnya memiliki peran yang cukup besar dalam menghasilkan keseluruhan karakter suara. Karena itulah, menurut Z, suara O Audio tidak langsung memberikan kesan seperti mendengarkan horn konvensional.

Dan justru di situlah menariknya.

Z mengatakan bahwa pada kondisi tertentu ia lebih menyukai solid-state dengan O Audio. Sebaliknya, ketika karakter amplifier terlalu agresif dipasangkan dengan sistem yang sangat sensitif, hasilnya bisa menjadi terlalu keras. Bahkan menurutnya suara dapat terasa tipis dan kehilangan bobot tonal maupun teksturnya.

Jadi, memilih amplifier untuk O Audio juga bukan sekadar “tube versus transistor”. Yang dicari tetap kecocokan karakter.

0-3840×2160-0-0-{}-0-24#

Lalu bagaimana dengan Verdande?

Pembicaraan kami kemudian bergeser ke Verdande. Z menjelaskan bahwa speaker ini memiliki kemampuan mengisi ruangan yang sangat besar dengan mudah. Salah satu alasannya adalah penggunaan prinsip direktivitas pada horn.

Istilah direktivitas mungkin terdengar teknis, tetapi konsep dasarnya sebenarnya cukup mudah dipahami. Energi suara diarahkan ke tempat yang memang ingin dituju, bukan dibiarkan menyebar ke segala arah—ke lantai, plafon atau dinding.

Z sendiri bukan orang baru dalam persoalan ini. Sekitar 17–18 tahun lalu, ia pernah bekerja di  perusahaan speaker bernama Dandy Sound Labs dan bekerja bersama mereka selama sekitar lima tahun. Di sana, konsep direktivitas pada horn juga menjadi bagian dari pendekatan mereka.

Menurut Z, pengendalian arah suara seperti ini punya keuntungan besar. Speaker dapat lebih mudah bekerja di dalam ruangan tanpa harus membuat seluruh ruangan dipenuhi material akustik.

Karpet membantu. Jendela bisa membantu. Kondisi ruangan tentu tetap berpengaruh. Tetapi tidak berarti setiap permukaan harus ditempeli busa.

Buat saya, ini menarik karena kembali mengingatkan bahwa bermain audio bukan hanya soal memilih speaker yang mahal. Ruangan dan cara speaker menyebarkan energinya juga menentukan hasil akhirnya.

Z tidak membeli merek karena “lima bintang”

O Audio ini banyak mendapatkan review yang bagus, termasuk dari majalah terkenal seperti Absolute Sound. Apakah dia berbangga dengan ini? Ternyata biasa saja. Saya tanyakan demikian, dia banyak menerangkan, yang pada intinya seperti ingin mengatakan, ‘baiknya kita dengarkan sendiri saja suaranya seperti apa”.

Jawabannya sederhana: dengarkan sendiri – begitu.

Bagi Z, review majalah boleh saja menjadi bahan informasi. Tetapi keputusan terakhir tetap harus kembali kepada telinga sendiri. Ia ingin mendengar produknya, memahami karakternya, mencoba dalam sistem, kemudian memutuskan apakah produk tersebut memang layak dibawanya.

Ia bercerita bahwa pertama kali mendengarkan O Audio adalah ketika berada di Munich. Setelah mendengarnya, ia tidak langsung membawa merek tersebut ke Indonesia. Ia justru berkomunikasi dengan pihak O Audio selama sekitar dua tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menandatangani kerja sama.

Jadi prosesnya panjang. Dan ini rupanya memang cara Z memilih merek. Ia tidak mau terburu buru, apalagi membawa produk hanya karena sebuah majalah menulis bahwa produk tersebut bagus.

Bukan sekadar menjual speaker

Dari pukul 3 sore, kami banyak mengobrol lalu mendengar musik di ruanganya, mendengarkan penjelasannya, dan tak terasa waktu menunjukkan pukul 7.15.  Kami banyak berdiskusi dan Z banyak menjelaskan tentang speaker, amplifier, ruangan, direktivitas, posisi duduk sampai bagaimana sebuah sistem harus diperlakukan ketika hanya punya waktu satu hari untuk setting. Sungguh dia tahu apa yang dia jual.

Dan mungkin itu pula yang membuat perjalanan Z ke berbagai pameran dunia menjadi penting. Hampir setiap tahun ia pergi ke Munich atau kota lain untuk melihat langsung brand yang dipegangnya. Tahun ini, misalnya, perjalanannya membawa ia ke Vienna, Budapest, kemudian Perancis dan tempat-tempat lainnya.

0-3840×2160-0-0-{}-0-24#

Bukan sekadar jalan-jalan. Ia datang untuk melihat, mendengar dan memahami langsung. Ini tentu menarik karena pada akhirnya, memilih sebuah perangkat audio high-end memang kita perlu tahu betul apa teknologinya, desainnya, konsepnya dan lain lain. Dan tentu bagi Z, telinga sendiri tetap menjadi hakim terakhir.

Dan O Audio, setelah didengar, dipelajari dan dipertimbangkan selama bertahun-tahun, akhirnya menjadi salah satu merek yang ia pilih untuk dibawa Phantom Audio ke Indonesia.

Mungkin sesederhana itu alasannya. Atau justru karena urusan audio high-end memang tidak pernah sesederhana itu.

Inilah bahasan pertama kami dalam tulisan ini. Ada merk lain yakni Aries Cerat yang seakan setia di tangan Zahir. Perlu kita korek bagaimana produk ini di kesempatan mendatang. Jangan lupa anda bisa cicipi videonya di link di atas.

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *