
Berbahagialah anda, jika di rumah punya dinding putih berpermukaan halus luasnya seluas layar 150 inch 0 bahkan lebih. Tinggal beli layarnya, lalu proyektornya lalu duduk santai, memanjakan mata dan telinga. Ini seperti yang kami lakukan saat meninjau model proyektor 3LCD lasernya Epson, EH-LS12000B. Beda sekali pengalaman menonton dengan gambar sebesar ini dengan bila melalui TV di rumah, misalnya yang sampainya di 85 inch.
Tetapi memang bukan berarti TV mendadak buruk. Tidak juga. Hanya saja, nggregetnya beda, dibandingkan misalnya kala bola mata mengikuti gerakan Jake Suly dan para ksatria Navi di film Avatar yang dibawa terbang (burung) yang disebut Ikran. Di layar, kita melihat puluhan Ikran dilatarbelakangi pemandangan alam memenuhi memenuhi pandangan mata. Otak kita seperti langsung memahami bahkan menyadarkan – film-film besar memang dibuat untuk layar besar! Bukan untuk layar TV.
Involving saat menonton ini membuat kami terus memutar film film yang ada embel embelnya ‘4K’ di YouTube dengan proyektor Epson ini dipadukan dengan layar 150 inci jenis soft wide merk Any-Linx, kebetulan di dapurnya Any-Linx yang spesialis layar home theater itu. Saat menyajikan, akan lebih ideal memang bila memakai file atau piringan Blu-ray 4K film. Tetapi di YouTube pun bisa terlihat pemandangan menawan untuk 4Knya. Ada yang bilang, jika beruntung, kita bisa dapat yang true 4K dimana videonya direkam dengan kamera 4K dan di-upload dengan resolusi 3840 × 2160. Jika kemudian memilih kualitas 2160p di pengaturan video YouTube, berarti file yang ditonton memang 4K. Intinya, ceklah, di menu Setting(yang bergambar roda gigi), apakah ada tulisan 2160p, jika tidak ada, berarti videonya bukan 4K, meskipun judulnya bilang 4K.

Tetapi rata rata, video ini telah diupscale ke 4K. Jadi video yang sebenarnya direkam 1080p, lalu diperbesar menjadi 4K saat editing. Di YouTube tetap bisa tampil sebagai 2160p, tetapi detailnya tidak setajam 4K asli. Ini sering dilakukan supaya terlihat lebih “premium”. Nah sekarang, judulnya mau ‘kepo’, ingin tahu seberapa lezat di mata, LS112000B yang punya spesifikasinya bolehlah sedikit kita ceritakan Panjang lebar.
Ini adalah proyektor berteknologi laser 3LCD dengan resolusi 4K (3840×2160) yang mampu menampilkan sekitar 8,3 juta piksel. Teknologi 4K Pro UHD-nya memakai konsep pixel shifting. Disini panel proyektor menggeser piksel secara sangat cepat dalam beberapa posisi sehingga di layar tercipta sekitar 8,3 juta piksel, mendekati detail visual 4K.
Teknologi 3LCD itu ciptaannya Epson. Dalam berbagai reviewnya, dia dikatakan istimewa di warnanya yang cerah dan alami (karena menampilkan warna merah, hijau, dan biru secara bersamaan sehingga menghasilkan color brightness yang tinggi dan seimbang dengan white brightness). Lalu tidak ada “rainbow effect” seperti pada sebagian proyektor DLP, sehingga gambar lebih nyaman dilihat dalam waktu lama. Ada klaim dari Epson bahwa sumber cahaya laser terbilang tahan lama dan hampir bebas perawatan, biasanya mampu bekerja hingga sekitar 20.000 jam tanpa perlu mengganti lampu.
LS12000B punya kecerahan di 2.700 lumens dengan rasio kontras hingga 2.500.000:1 – cukuplah untuk membuat adegan terang maupun gelap terlihat dramatis.
Proyektor seharga 60 jutaan ini mendukung input 4K/120Hz melalui HDMI 2.1 dan sumber cahaya laser hingga 20.000 jam. Dengan spesifikasi seperti ini, Epson berani menggadang-gadangnya sebagai proyektor untuk film, olahraga, maupun gaming modern.
Mengamati
Ada sejumlah menu yang perlu dimainkan, misalnya Adjust Focus(mengatur ketajaman gambar agar terlihat fokus di layar, dimana pengaturannya motorized), lalu level HDR10 untuk mengatur tingkat kecerahan saat memutar konten HDR10. Jika gambar HDR terasa terlalu gelap atau terlalu terang, level ini bisa dinaikkan atau diturunkan agar detail di area terang dan gelap tetap terlihat. Rupanya, pengontrolan ini diperlukan karena proyektor ini walau mendukung HDR10, dia tidak memiliki dynamic tone mapping otomatis, sehingga kadang perlu menyesuaikan HDR level secara manual agar HDR terlihat optimal.

Lanjut, ada menu Dynamic Range dimana proyektor membaca rentang dinamis sinyal video untuk menyesuaikan dengan sumber video seperti Blu-ray, streaming, atau konsol game. Kami mainkan Geometry Correction. Hampir pasti menu ini perlu dimainkan disaat awal menyesuaikan gambar ke layar, misalnya untuk memperbaiki bentuk gambar jika proyektor tidak tepat lurus ke layar. Dengan fitur ini, gambar yang terlihat miring, trapezoid, atau melengkung bisa disesuaikan supaya kembali proporsional. Sempat juga sebentar kami mencoba menu bila proyektor dipasang tergantung diatas langit langit, Di menu yang kami lihat melalui remote control, ada Network Setting, untuk menghubungkan proyektor ke jaringan LAN atau Wi-Fi (jika menggunakan adaptor). Fungsinya agar proyektor bisa dikontrol lewat jaringan, update firmware, atau integrasi dengan sistem smart home / control system. Terakhir, sempat mencoba menu Color Univormity, yang rupanya untuk menyamakan warna di seluruh area layar. Jika ada bagian gambar yang terlihat sedikit lebih merah, hijau, atau biru dibanding area lain, menu ini bisa menyesuaikan keseragaman warna agar tampilan lebih merata.
Kami yakin, tidak semua menu ini harus digunakan saat mengkalibrasi awal. Paling hanya menu Installation dan sebagian Image Menu yang benar-benar dipakai untuk kalibrasi dasar. Menu lain seperti Color Uniformity, Network, atau pengaturan lanjutan biasanya baru digunakan jika ada kebutuhan khusus
Siap Putar
Oke, sekarang yuk mari putar Mad Max: Fury Road . Pilih ini, karena menurut pengalaman, ini adalah salah satu yang paling seru untuk melihat bagaimana proyektor menangani warna-warna gurun yang kontras, repro aneka logam logam, baik dari kendaraan, tameng, bangunan dna lain lain. Film ini bolehlah kita pakai sebagai reference demo movie untuk proyektor karena penuh warna ekstrem: gurun oranye, langit biru keras, api, serta kendaraan penuh logam dan karat.

Kami amati, LS12000B mampu menampilkan warna dengan cerah dan vivid bahkan sebelum kalibrasi. Warna kuning-oranye pasir terlihat hidup dan kekontrasan langit biru dan pasir panas terasa kuat. HDR disini sanggup memberi efek “panas” khas gurun yang sangat terasa. Film ini sendiri memang terkenal karena palet warnanya yang ekstrem—gradasi kuning, oranye, dan langit biru kontras yang dibuat sangat dramatis oleh sinematografernya. Logam logam yang ada karena pengaruh HDR, membuatnya seperi berkilauan tetapi kilauannya lebih kepada nuansa teduh ketimbang bening. Menariknya, tidak ada artefak warna seperti rainbow effect. Yakinlah ini karena teknologi 3LCD
Oh ya, dalam pengunjian, tak ada suara yang tampil. Tak mau pusing urusan gambar, karena memang ingin lebih focus ke gambar. Alasan kedua, yak arena model ini tak punya speaker. ,jadi tak perlu ada suara di pengujian.
Beralih ke Avatar: The Way of Water. Mengapa Avatar, semata karena film ini pernah menyabet penghargaan kaliber dunia untuk gambar termasuk warna. Maka, bolehlah untuk menguji kemampuan warna dan detail penayang gambar. Di awal film, suguhannya saja sudah memukau. Ada pemandangan biru laut Pandora terlihat kaya dan dalam, air yang berkilau, terlihat alami dan hidup seperti layaknya kita memandang kedalaman laut. Senang juga menatapi tekstur kulit karakter bangsa Na’vi yang terasa alami. Ada juga momen-momen ketika menatapi detail kecil yang biasanya terlewat saat menonton di layar lebih kecil. Hal ‘cakep’ lainnya, seperti di kecerahan warna dan gradasi warnanya terasa hidup, kian mengesankan dunia Pandora yang tampak sangat imersif. Kontrasnya bagus untuk proyektor 3LCD, walau black level tidak terlalu istimewa dengan kepekatannya.
Demikianlah pengamatan kami di kedua film ini. Kembali perlu diingat bahwa model ini menggunakan teknologi pixel-shifting 4K PRO-UHD, bukan panel 4K native seperti beberapa proyektor high-end(di kelas harga ratusan juta Rupiah bahkan milyar-an), meskipun secara visual tetap terlihat sangat tajam. Dibandingkan panel 4K native, ketajaman mikro, tekstur sangat halus, dan presisi piksel di pixel shifting biasanya masih sedikit kalah karena resolusi 8,3 juta pikselnya dibentuk melalui pergeseran, bukan benar-benar berasal dari panel true 4K. Tetapi untuk proyektor dikelas harga 60 Jutaan, teknologi ini terbilang menarik, apalagi melihat tampilan seperti yang kami utarakan di atas. Info lain, model ini tidak 3D support, aplikasi streaming, atau speaker internal, sehingga hampir pasti harus dipasangkan dengan AV receiver atau sistem home theater terpisah.
Untuk Gaming
Nah, sayangnya untuk yang satu ini Auvindo belum berkesempatan mengujinya. Tetapi dari teorinya dengan melihat spesifikasinya, dia terbilang mumpuni untuk dipakai bergaming ria. Coba lihat dari sisi teknologi 4K hingga 120Hz melalui HDMI 2.1-nya, ini bisa membuat game dari konsol modern seperti PS5 atau Xbox Series X bisa tampil lebih halus dengan frame rate tinggi. Lalu dengan melihat input lag-nya yang diklaim relatif rendah (di bawah ±20 ms) dalam mode cepat, ini tentu akan membuat respon antara kontrol dan gambar di layar terasa lebih cepat. Cakeplah apalagi untuk game-game yang sifatnya kompetitif dan pertarungan. Ketiga, nah ini… bila kami gunakan layar saat itu di 150 inch pada kecerahan 2700 lumen, bayangkan seberapa besar/imersifnya tampilan di hadapan kita. Lebih heboh ketimbang memakai TV.

Kesimpulan
Epson LS12000B termasuk piawai dalam menyajikan film dengan palet warna yang ekstrim, menampilkan gradasi warna warna misalnya kuning, oranye, birunya langit. Menariknya, bahkan konten 4K dari YouTube pun terlihat baik. Detail tetap terjaga, gambar tidak terlihat pecah, dan keseluruhan pengalaman menonton terasa sangat imersif.
Di ruangan, kami coba nyalakan dua lampu di depan layar, dan ternyata gambar masih terlihat cukup kuat. Memang tetap lebih ideal jika ruangan gelap, tetapi pengalaman menonton tidak langsung rusak hanya karena ada sedikit cahaya. Ingat hal ini, jadi ingat lagi akan bagaimana menonton dengan proyektor dan layar, lebih sehat dibandingkan menonton dengan TV, khususnya dari sisi pancaran sinar. Saat menonton ini, cahaya yang kami lihat adalah pantulan dari layar, bukan cahaya langsung seperti TV. Akibatnya, layar yang sangat besar tetap terasa santai di mata. Selain itu, secara visual ruangan terasa lebih bersih. Proyektor bisa dipasang di plafon, dan layar hanya muncul saat ingin menonton. Ketika dimatikan, ruangan kembali terlihat seperti biasa.

Idealnya memang kita punya ruang khusus menonton film (dedicated home theater), karena ini bukan sekadar proyektor ruang keluarga biasa. Ukuran bodinya besar dan biasanya dipasang permanen di langit-langit atau rak khusus agar posisi gambar stabil dan presisi. Dengan kontras sangat tinggi dan dukungan HDR, ia paling terasa “wah” saat dipakai menonton film, serial streaming, konser, atau gaming di layar besar
Dia paling pas dipakai di ruang home theater yang agak gelap dengan layar 100–150 inci (walau bisa juga sampai 200 inci), dimana jarak proyektor sekitar 3–6 meter (tergantung besar layar). Instalasinya tentu perlu permanen, agar pengalaman menonton film, konser, atau gaming terasa seperti di bioskop sungguhan. Ingat ingat, home theatre itu kan memindahkan bioskop ke rumah.
Soal ruangan, kami yakin kalau ruangan kecil pun, sekitar 3 × 4 meter cukup oke, tetapi yang minimal idealnya di di 4 × 6 meter atau lebih. Ukuran layar yang nyaman adalah di 100–120 inci untuk ruang kecil atau 120–150 inci untuk ruang home theater serius
Bicara kadar pencerahannya yang 2.700 lumen, okelah untuk ruangan gelap atau sedikit dimmer, apalagi bila ada Tirai tebal / blackout curtain. Lampu dim atau mati kurang ideal bila Jendela terbuka dengan cahaya matahari langsung dan lampu ruangan terang seperti ruang meeting.





