
Ada yang bilang, menyimak musik hasil repro alat, tak ubahnya seperti menatap pemandangan Grand Canyon tetapi melalui jendela berkaca berbingkai. Setiap komponennya (player, ampli, speaker, kabel) dalam kadar tertentu mendistorsi sinyal yang melaluinya.
Jadi, dia menambahkan karakter kasar atau kesan butiran(grainy) di tekstur suara instrument. Yang lain mengurangi kontras dinamika (di bagian keras dan lembut), jadi mengurangi kadar ekspresi pemain musik. Ada juga yang menyelimuti musiknya dengan lapisan tebal dan keruh, merusak warna warna tonal yang halus dan membuat semua instrumen terdengar seragam tetapi tanpa karakter yang jelas.
Pada akhirnya, kata orang ini, bingkai jendela itulah—yakni sistem (baik pemutaran elektronik dan mekanik)—yang mempersempit keluasan makna artistik yang ingin disampaikan oleh para musisi.
High-end audio adalah tentang menghilangkan sebanyak mungkin “kaca pembatas”, dan membuat kaca yang tersisa setransparan mungkin. Semakin sedikit lapisan penghalang tersebut, dan semakin kecil pengaruh masing-masing terhadap informasi yang melewatinya, semakin dekatlah kita dengan yang namanya ‘pengalaman mendengarkan musik secara langsung’, serta semakin dalam pula engagement kita dengan pesan musikal yang ingin disampaikan
Mengapa produk audio high-end menjadi “jendela” yang lebih transparan terhadap peristiwa musikal dibandingkan sistem stereo pasar massal? Produk high-end dirancang untuk terdengar bagus—dalam arti menyerupai bunyi aslinya. Produk-produk ini tidak selalu dibuat untuk sekadar tampil “baik” menurut spesifikasi teknis tertentu.
Renungan dari pameran Kuala Lumpur International AV Show 2024 di Malaysia, bulan Oktober 2024 lalu. Disini Auvindo main ke roomnya exhibitor.AlsyVox Audio design dan Yukisemitsu Audio
