
Ada kesan, model baru Infinix Note 60 Pro – Ponsel baru yang belum sepenuhnya dirilis, tapi teaser menunjukkan modul kamera belakang besar yang desainnya mengingatkan iPhone 17 Pro. Infinix juga menambahkan Active Matrix Display di bagian kamera yang memberi info seperti notifikasi/waktu, mirip gaya antarmuka kreatif.
Kalau melihat desain terbarunya, rasanya Infinix seperti mengintip dua ponsel populer lalu berpikir, “Kenapa tidak digabung saja?” Dari iPhone 17 Pro, mereka mengambil gaya modul kamera berbentuk pil horizontal yang memanjang selebar bodi, lengkap dengan tiga lensa di sisi kiri dan warna Solar Orange yang terasa sangat “Apple”. Sementara dari Nothing Phone (3), mereka meminjam ide lampu dot-matrix ala Glyph di sisi kanan—yang bisa menampilkan jam, cuaca, notifikasi, sampai kontrol musik lewat titik-titik cahaya kecil.
Menariknya, perpaduan ini ternyata tidak terlihat berantakan. Infinix cukup serius menggarapnya sehingga modul kamera dan layar dot-matrix itu terasa menyatu, bukan sekadar tempelan. Ukuran tampilannya juga cukup besar sehingga informasi masih bisa terbaca dengan nyaman. Pertanyaannya bukan lagi apakah eksekusinya rapi, tetapi apakah fitur ini benar-benar dibutuhkan, atau sekadar gimmick yang terlihat keren di foto promosi.
Kalau mau jujur, desain ini jelas turunan dari karya brand lain. Seperti kolase dari dua gaya yang sudah lebih dulu sukses, lalu diracik jadi satu identitas baru. Strategi ini umum dipakai pemain yang ingin cepat menarik perhatian di pasar menengah yang padat. Hasilnya memang terasa familiar sekaligus beda, tapi belum tentu membangun ciri khas kuat yang membuat orang langsung ingat, “Oh, itu pasti Infinix.”

Di atas kertas, spesifikasinya cukup menggoda. Chip Snapdragon 7s Gen 4, layar besar 6,78 inci resolusi 1.5K dengan refresh rate 144Hz, serta baterai 6.500mAh dengan pengisian cepat 90W—semuanya terdengar kompetitif. Namun pengalaman nyata tidak hanya soal angka. Kinerja harian, dukungan software, dan apakah sistemnya bersih atau penuh aplikasi bawaan akan jadi penentu. Harga resminya memang belum diumumkan, tapi jika diposisikan agresif di bawah 400 dolar AS, kombinasi spek tinggi dan desain “rasa premium” ini bisa jadi senjata ampuh di pasar Afrika dan Asia Tenggara.
Desain mirip iPhone biasanya hanya di tampilan kamera belakang atau bentuk umum, bukan berarti performa atau fitur keseluruhan akan selevel iPhone 17 Pro. iPhone punya chipset, kamera, dan optimisasi iOS yang jauh berbeda dari ponsel Android kelas menengah