
Bang Ivan lagi heppi. Sistemnya dirasakannya kian improve, khususnya sejak hadirnya sebuah DAC May dari Holo Audio.
Sepulang dari keliling Jawa untuk menimba ilmu, desainer kabel stereo merk Magic Audio ini memang sudah mengincar DAC ini,setelah dilihatnya beberapa memakainya dan menurutnya, suaranya tampil baik. Sepulangnya ke Jakarta, dia beli dan pasangkan ke sistemnya.
“Kemarin belajar main streaming pakai DAC biasa dahulu dengan format DSD512. Nah setelah mengerti cara pakainya, saya langsung upgrade ke DAC yang end game”kata Ivan.
DAC ini punya spesifikasi kelas hi end dan menurut Ivan, DAC asal Cina ini memakai R2R discrete yang bisa support format native DSD 1024. Inilah DAC discrete R-2R ladder kelas audiophile yang dirancang untuk menangani audio digital hingga kualitas ultra-tinggi (PCM sampai 32-bit/1.536 kHz, DSD sampai DSD1024).

DAC R-2R (Resistor Ladder) adalah teknologi yang menggunakan rangkaian resistor untuk mengubah sinyal digital menjadi analog secara langsung, berbeda dengan delta-sigma yang lebih umum. R-2R terkenal sulit diaplikasikan dengan presisi tinggi — tetapi bila berhasil, memiliki karakter suara sangat alami dan “analog-like
Dia juga punya konsep Dual mono – dual chassis PSU – dimana power supply terpisah dari bagian DAC untuk meminimalkan interferensi dan noise. Selain itu menggunakan VCXO presisi tinggi untuk mengurangi jitter sebanyak mungkin.

Inilah boys toysnya audiophile yang menyukai suara yang transparan.Hanya saja biasanya perlu diperhatikan factor matching system, dimana system audio butuh kecocokan. Juga sensitive terhadap kabel dan perangkat sumber.
Peran Krusial DAC
Dari obrolan tentang DAC May di room bung Ivan ini, mengingatkan kembali kita akan peran serta sebuah DAC di stereo. Kalau kita bicara sistem stereo high-end, peran DAC itu sangat krusial—terutama di era streaming sekarang.
DAC adalah “penerjemah” antara dunia digital dan analog. File musik itu isinya angka-angka; tanpa DAC yang baik, angka itu tidak akan berubah jadi sinyal analog yang halus dan musikal saat keluar ke amplifier dan speaker. Jadi kualitas DAC sangat menentukan: detail, kejernihan, kedalaman panggung suara, sampai tekstur vokal.

Di sistem high-end, DAC bisa terasa seperti “jantung” sumber suara. DAC yang bagus membuat suara lebih fokus, layering instrumen lebih jelas, dan dinamika terasa lebih natural. Sebaliknya, DAC biasa saja bisa membuat sistem mahal terdengar datar atau kurang emosional.
Akan tetapi DAC itu bukan segalanya. Ia bekerja dalam satu ekosistem—amplifier, speaker, kabel, bahkan kualitas listrik. Di level high-end, semuanya soal synergy dan matching system. DAC hebat seperti Holo Audio May bisa bersinar maksimal kalau dipasangkan dengan sistem yang seimbang.
Kalau sumber musik kita di rumah adalah digital (streaming, server, CD transport), maka DAC adalah fondasi karakter suara. Di stereo high-end, ia bukan sekadar aksesoris—ia penentu rasa.


