Runtuhnya Skeptisme Oleh Sajian Suara : Pengalaman dengar Herb Reichert

Comment
X
Share
Share with your friends

Mendengar musik itu seperti melukis. Melukis, semua dimulai dari satu goresan— tak ubahnya mendengar musik yang dimulai selalu dengan menyimak nada pertama. Setelah itu, pelukis masuk dalam emosinya dalam goresan goresan, tak ubahnya dengan mendengar musik yang lalu tenggelam dalam nada-nada selanjutnya, hingga saat lukisan selesai, lagu terhenti, yang tersisa tidak hanya karya dan suara, tetapi pengalaman. Inilah  pengalaman yang didapat oleh seorang Herb Reichert. Seorang reviewer dari Stereophile yang pernah menuliskan kisahnya di Stereophile.com.

Bagi Herb Reichert, momen seperti digambarkan di atas  justru datang dari sesuatu yang tak ia duga— saat menikmati sebuah amplifier class-D berbasis GaN dari LAiV Audio. Sebagai audiophile senior, ia awalnya skeptis terhadap ampli di kelas ini, menganggap teknologi class-D dan transistor gallium nitride tidak akan mampu menyamai karakter suara yang selama ini ia percayai dari desain analog klasik.

Namun semua mulai berubah saat ia mencoba LAiV GaNM Monoblock. Begitu musik diputar, fokusnya langsung terkunci; perhatian yang sebelumnya terpecah perlahan menyempit, dan tanpa disadari ia tidak lagi mendengar alat, melainkan masuk ke dalam ruang musik itu sendiri—melihat posisi penyanyi, merasakan atmosfer rekaman, dan menikmati detail yang terasa hidup.

Ia mendapati, karakter suara amplifier ini  menampilkan suatu kesan yang tidak biasa. Ia terdengar sangat transparan dan bersih, walau punya kecenderungan lebih bright dan open dibanding amplifier yang pernah ia tinjau seperti Parasound Halo A21+ dan First Watt SIT-4. Namun tampilan terkesan bright ini tidak pernah berubah menjadi kasar; sebaliknya, justru membuka detail-detail kecil dan dinamika yang sebelumnya tersembunyi. Bahkan saat dipasangkan dengan speaker kecil, amplifier ini mampu menghadirkan bass yang kuat dan energi yang bikin kaget, seolah melampaui batasan fisik perangkat tersebut. Dalam berbagai rekaman akustik, suara yang dihasilkan tidak hanya terdengar detil, tetapi harmoniknya juga terasa tampil  berlapis, muncul dengan jelas. Transiennya dirasakannya bergerak cepat dan tampil presisi. Dia merasakan bagaimana ruang di antara speaker seakan dipenuhi oleh getaran udara yang hampir bisa disentuh.

Kebersihan Mempengaruhi Suara

Menariknya, pengalaman ini tidak hanya datang dari perangkat utama. Herb juga menemukan sisi lain, ketika dia  membersihkan piringan hitam menggunakan Record Doctor VI. Setelah dibersihkannya, ternyata alat ini  mampu membawa perubahan signifikan. Piringan lama yang sebelumnya penuh noise menjadi jauh lebih bersih, lebih senyap, dan bahkan menghadirkan imaging yang lebih jelas dan tiga dimensi. Temuan ini memperkuat satu hal penting, yakni :  dalam dunia audio, detail kecil sering kali memberikan dampak besar.

Merubah cara pandang

Pada akhirnya, cerita ini bukan sekadar tentang perangkat audio, melainkan tentang perubahan cara pandang, dimana pelajarannya adalah, jangan dahulu memandang remeh suatu barang audio (entah itu rupanya tidak elok atau teknologinya, topologi desainnya dan lain lain) sebelum mendengarkan suaranya.   Kita bisa saja atau pernah tentu mengalami kejadian seperti Herb, dimana sesuatu yang dulu kita ragukan kini justru menjadi sumber kekaguman. Ini adalah kisah pengalaman mendengar yang nyata mampu menggoyahkan keyakinan lama dan membuka kemungkinan baru. Karena pada akhirnya, sistem audio terbaik bukanlah yang paling mengesankan secara teknis, melainkan yang mampu menghilang dari kesadaran kita—dan membiarkan musik mengambil alih sepenuhnya.

Setujukah anda? Mungkin anda pernah punya pengalaman seperti Herb Reichert ini? atau punya pendapat dan kesan?  Mari kita sharingkan.

(Baca kisah lengkapnya di :  https://stereophile.com/content/gramophone-dreams-107-laiv-ganm-monoblock-record-doctor-vi-20th-anniversary-edition

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *