Ketika Produk Sudah Kuat, Edukasi Pasar Jadi Kunci (Catatan dari FGD Epson 2026)

Comment
X
Share
Share with your friends

 

Manajemen Epson South East Asia dan Epson Indonesia yang hadir dan terlibat di acara Forum Discussion Group

Epson Indonesia menggelar acara Media Gathering 2026 yang berlangsung di Bangkok pada 11–13 Februari 2026. Salah satu acaranya adalah Forum Discussion Group(FGD). Langkah ini  patut diapresiasi karena membuka ruang kolaborasi, berbagi insight pasar (termasuk isu TKDN, B2B, dan B2C), serta menyambut Tahun Fiskal 2026 dengan lebih terarah. Ada satu hal menarik yang perlu digarisbawahi dari pendapat beberapa media (termasuk Auvindo) yang memberi masukan untuk kian diektensifkan langkah edukasi pasar.

 

Diskusi yang terbagi ke dalam tiga kelompok ini  menghadirkan sudut pandang yang beragam dan kaya dari beberapa media yang diundang dan sebagian besar menyorot produk printer.Epson memang sudah sangat kuat dalam persepsi publik sebagai brand printer. Dan untuk produk jenis lain misalnya proyektor —terutama home cinema—ruang tumbuhnya menurut kami masih sangat terbuka.

Untuk segmen proyektor cinema, ada catatan khusus dari Auvindo yakni : awareness publik terlihat belum sebanding dengan kualitas produknya. Padahal, Epson dikenal sebagai brand Jepang dengan standar kualitas yang tidak “kaleng-kaleng” seperti aneka model proyektor cinema terkininya (sebutlah yang 4K seperti LS8000B, LS12000 dan LS11000). Jadi salah satu tantangan bagi Epson Indonesia kedepan menurut kami, sambil mempertahankan mutu produk, adalah bagaimaa kian menguatkan sekaligus mengarahkan persepsi publik.

FGD yang Strategis, Tapi Perlu Ditindaklanjuti

Mari bicara proyektor saja, karena memang konsen Auvindo lebih ke situ.  Di tengah ketatnya regulasi pemerintah serta derasnya kompetisi dari brand seperti BenQ, LG, Panasonic, dan Hisense, Epson tentunya perlu bergerak lebih taktis. Ini karena kompetitor menawarkan fitur yang juga menarik dengan harga di beberapa model lebih terlihat agresif. Ini tentunya menuntut Epson untuk tidak hanya menghadirkan produk yang unggul, tetapi juga bagaimana menerapkan strategi komunikasi dan penjualan yang lebih tajam.

Proyektor Epson: Kualitas Ada, Narasi Belum Kuat

Dari sejumlah review Auvindo terhadap dua model projector (portable dan 4K) Epson, obrolan ringan dengan salah satu distributor Epson projector, membaca review media, dan obrolan dengan pengunjung pameran dimana Epson ikut tampil – terasalah bagaimana  Epson boleh dikatakan punya citra yang baik —baik dari sisi kualitas produk,  manajemen brand, koordinasi distribusi, kecepatan layanan, hingga after-sales service yang bonafid. Bahkan distributor yang selain Epson juga memegang beberapa merek (projector) lain mengakui bahwa Epson unggul dalam kualitas gambar, dukungan penjualan dan after sales service. Apakah ini tanggapannya berupa kecepatan dalam menjemput bola dan meminjamkan atau menggantikan produk, sayangnya belum sempat kami tanyakan.

Secara produk, banyak model proyektor Epson layak disebut “value for money” dengan POP (price over performance) yang menarik. Keunggulan seperti kemudahan setup, akurasi warna, kecerahan, detail gambar, serta teknologi 3LCD menjadi nilai lebih dibanding sebagian proyektor berbasis DLP.

Namun di lapangan, masih ada salah persepsi. Beberapa pengunjung pameran seperti Jakarta International AV Show 2025 (November 2025 lalu) menganggap harga Epson terbilang tinggi(membandingkan dengan merk lain yang juga ikut) tanpa dia mau meninjau kualitas dan kelas.. Ada pula pertanyaan seputar daya tahan, dukungan firmware(sampai seberapa lama), biaya perbaikan jangka panjang(apakah tinggi), hingga model mana yang terbaik untuk gaming. Artinya, kebutuhan informasi dan edukasi itu nyata—tinggal bagaimana Epson menjawabnya secara sistematis.

Edukasi: Bukan Sekadar Spesifikasi

Menurut kami dalam kaitannya dengan produk projector home cinema, Epson perlu menggeser pendekatan dari sekadar menyebut angka lumen atau resolusi, menuju edukasi berbasis pengalaman sinematik. Publik perlu melihat dan merasakan pengalaman langsung,  misalnya bagaimana perbandingan visual antara 3LCD dan teknologi lain seperti DLP. Mereka juga perlu memahami perbedaan antara 4K Pro UHD/ 4K native dengan yang 4K Enhancement(bukan  true 4K) , serta bagaimana implikasi biaya perawatan jangka panjang—termasuk pada teknologi laser. Jadi setidaknya bisa sedikit demi sedikit menghapus kesan ‘mahal’ di personal tertentu.

Edukasi juga bisa menyentuh hal sederhana tetapi penting dari hal kecil sekalipun: misalnya membaca buku manual(banyak dilupakan, jadinya setting gambarnya  bisa saja kurang maksimal), memilih layar yang tepat, (kerjasama dengan dealer layar tertentu), menyesuaikan ukuran ruangan tertentu(dari sini bisa kerjasama B2 B dengan designer/kontraktor rumah misalnya seperti yang dilakukan brand tetangga sebelah), hingga bagaimana setting optimal untuk hasil maksimal. Hal lain seperti bagaimana transparansi soal untungnya berinvestasi  jangka panjang  dengan membeli proyektor Epson. Ini sebagian saran sekedar untuk  membangun dan terus mempertahankan kepercayaan. Hal ini bisa dilakukan misalnya saat pameran seperti di JIAVS 2025 kemarin – membuat jadwal acara workshop/talkshow tertentu bekerjasama dengan penyelenggara. Bayangkan berapa pasang mata akan terbuka matanya lebar lebar.

Kolaborasi yang Lebih Intim

Segmen home cinema memang  tidak bisa diperlakukan seperti produk mass market biasa. Ia membutuhkan storytelling, pengalaman, dan komunitas. Kami rasa, Epson Indonesia juga perlu kian mengeratkan kerjasama secara lebih ekstrim lagi, khususnya dengan media yang memang lebih membahas produk ini. Kerja sama yang lebih mendalam dengan media audio-video, reviewer home theater, hingga kreator konten akan jauh lebih efektif dibanding sekadar peliputan acara.

Terkait media, satu kegiatan menarik sebagai ide yang pernah juga diadakan adalah writing competition, dengan kriteria yang jelas dan bisa diterima. Adanya media award yang kini dilakukan Epson Indonesia tentu sangat menarik, dengan kriteria kepada kualitas dan kedalaman, didukung dengan frekuensi pemuatan. Tujuan akhirnya tentu lagi-lagi agar didapat tulisan yang memang bermutu dan  bisa menjadi unsur mengedukasi pasar karena nikmat untuk dibaca dan tidak membosankan pasar (di FGD kemarin juga ada media yang menyarankan agar tulisan di Press Release dibuat dengan lebih menarik tanpa terkesan terlalu teknis).   Media award sudah seyogyanya juga bisa menarik bagi seluruh jurnalis yang ingin diajak bukan karena sekedar hadiahnya yang menggiurkan tetapi keinginan untuk ‘berbuat lebih’ untuk Epson. Tentunya ini berpulang kepada tujuan edukasi pasar tadi.

Kegiatan lain, yang bisa saja dilakukan dalam jangka (agak) panjang – mungkin mengajak media untuk beranjangsana ke ‘markas besar’nya Epson misalnya yang berada di Jepang, lebih dekat lagi dengan Epson dari berbagai sudut dan mendapatkan pemahaman yang lebih akurat lagi, untuk kemudian disebarkan ke Indonesia. Saran lain, adalah mengektensifkan forum diskusi tidak hanya di satu kegiatan, tetapi juga dalam wadah komunikasi seperti di Whatsapp group. Jadi terjadi komunikasi yang intensif.

Saat memikirkan hal tentang edukasi pasar diatas di acara FGD kemarin, pikiran sekelebat sempat melintas ke Auvindo, apakah Epson mau jika ada ide membuka peluang bagi pemasar independen atau individu (misalnya jurnalis atau pehobi AV) untuk ikut memasarkan secara personal dengan pelatihan sederhana?  Model semi-ambassador seperti ini bisa memperluas penetrasi secara organik sepertinya.

Penutup

Ada reviewer luar negeri yang mencatat area yang masih bisa ditingkatkan di model proyektor Epson, seperti black contrast pada adegan gelap yang belum cukup “deep”, serta panas bodi dan suara kipas pada model tertentu. Kritik ini bukan ancaman—melainkan peluang untuk penyempurnaan generasi berikutnya, dan jika hal diatas ternyata kurang tepat, tentu perlu kegiatan edukasi pasar.

Produk sudah kuat imagenya. Dukungan distribusi dan after-sales juga solid (jumlah Epson sales dan service outlet resmi, lokasi penjualan dan authorized services centres) jumlahnya sudah sangat banyak(jumlah update terakhir belum kami dapatkan). Kini tantangannya tinggal bagaimana Epson  membangun persepsi dan pengalaman publik secara lebih terstruktur.

Sebagai penutup, sebagai saran yang tak tersampaikan di ajang Forum Discussion Group kemarin, Epson Indonesia mungkin perlu membuat program edukasi berkelanjutan berupa roadshow demo home cinema ke kota-kota besar, agar publik bisa melihat langsung perbedaan visual teknologi 3LCD dibanding kompetitor. Selain itu, penting menghadirkan konten edukatif yang menjawab pertanyaan praktis—mulai dari pemilihan layar, jarak tembak, kebutuhan ruangan, hingga biaya kepemilikan jangka panjang—agar calon pembeli merasa aman sebelum memutuskan. Terakhir, Epson dapat membangun komunitas home theater resmi yang melibatkan media, reviewer, dan pengguna aktif sebagai brand advocate, sehingga edukasi pasar tumbuh organik dan berkelanjutan, bukan hanya saat event berlangsung.

Jika printer adalah “wajah” Epson di Indonesia, maka proyektor—khususnya home cinema—berpotensi menjadi “emosinya”. Dan dalam dunia hiburan rumah, emosi adalah segalanya.

Epson Media Gathering 2026, di hari pertama, jurnalis diaajk jalan jalan ke Wat Arun dan Chao Phraya River dan malamnya ke Jodd Fair Night di Bangkok

 

 

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *