Audiophile, Dengar Musik atau Suara?

Comment
X
Share
Share with your friends

Jika sedang kumpul, mendengar musik bersama, tahukah anda, mana teman anda yang music lover? mana yang audiophile? mana yang bukan keduanya melainkan hanya suka musiknya saja?  Manakah yang suka mendengar, karena ingin dengar suaranya? dan mana yang suka karena ingin mendengar musiknya? Lha, apa bedanya?

Beda. Sebab buat audiophile, musik itu bukan sekadar bunyi yang lewat, tapi niat dan emosi yang sedang bergerak.

Nada boleh sama, rekamannya boleh identik, tapi kalau sistem kita tak mampu menyampaikan maksudnya, yang sampai ke telinga cuma gerakan kosong—seperti musisi yang   yang memainkan instrumennya berpanjang lebar, tapi kita cuma dengar suaranya tanpa paham ceritanya. Tanpa memahami dia ingin menumpahkan apa, dengan emosinya seperti apa.

Itulah sebabnya musik terdengar beda di tiap sistem. Bukan karena lagunya berubah, tapi karena cara ia disampaikan ikut menentukan apakah niat sang musisi sampai atau nyasar di tengah jalan. Sistem audio dan ruangan bukan pelengkap, melainkan penerjemah. Kalau penerjemahnya kurang fasih, pesan yang indah bisa terdengar biasa saja.

Banyak musisi pernah kaget saat mendengar rekaman konsernya sendiri: notnya lengkap, tapi  nilai magisnya terasakannya menguap. Memang, ini karena musik bukan soal jumlah nada, melainkan arah dan tujuan nada itu dimainkan. Dan di situlah tugas kita sebagai penikmat musik yang antusias (enthusiast) atau lebih populer disebut audiophile, berada—bukan mengejar suara yang “wah”, tapi suara yang jujur, yang membuat kita berkata,
“Oh… ternyata ini yang ingin dia atau mereka katakan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *