GCEDAC : Ketika Kalibrasi Speaker Tidak Lagi Hanya Mengandalkan Mikrofon

Comment
X
Share
Share with your friends

Saat Digunakan di Proyek ESSI

Dalam sebuah grup Wa, suatu kali Handy Wijaya, dari PT ESSI (Esa Selaras Sinergi Indonesia)  memperkenalkan sebuah software. Berikut petikan tulisannya,

“ Ijin posting rekaman playback (tanpa diedit ) di seluruh area Umat lt. utama Grj Polikarpus Grogol, yang memiliki reverb time / waktu gaung 2.2 detik, menggunakan 2 satellite main speaker, 2 buah low speaker 15 in, 7 unit satellite speaker 5 in dan 12 unit in ceiling speaker 8 in, dikalibrasi dan disetting menggunakan software GCEDAC yang didevelop oleh rekan kami Hardy Nanda, agar menghasilkan suara yang jelas, detil, suara low yang solid dan definitif dan warna suara yg uniform serta kesan arah sumber suara selalu datang dari Altar di setiap posisi tempat duduk Umat”.

 

Di kirimannya, Handy juga mengirimkan dua video rekaman yang dimaksud, dan sempat Auvindo dengar serta bedakan. rekaman lagu rohani dengan irama lambat, samar samar dimana juga terdengar noise – sebab saat rekaman, ada yang instalasi CCTV lalu rekaman dgn suara low yg dinamis.

Kami malah lebih tertarik ke software ini.   Apa itu GCEDAC? Jika dalam kasus di gereja di atas,  Handy menjelaskan bahwa ini adalah software yang membuat  suara main speaker dan speaker fill (backfill, sidefill, front fill, under balcony speaker, upper balcony speaker) akan ‘menempel’ dengan sub (apakah maksudnya koheren?), memberikan sensasi suara sub lebih solid, padat, tight, powerfull, sehingga suara full range juga jadi lebih baik kejernihannya, detil serta kejelasan suara. Itu klaim dari Handi.

Tentang GCEDAC

Jadi ceritanya, ada orang Indonesia yang mengembangkan sebuah metode sekaligus software untuk kalibrasi sistem audio (speaker, subwoofer, dan sistem playback) yang dirancang dengan pendekatan psikoakustik—yaitu cara otak manusia benar-benar mendengar suara, bukan sekadar apa yang diukur oleh mikrofon. Namanya Hardy Nanda.

Nama softwarenya ini dia namakan  GCEDAC yang rupanya kependekan dari Gain – Crossover – Equalizer – Delay – Alignment – Coherence. Memberi makna bahwa software atau metode ini mengatur enam aspek utama dalam sistem audio, yakni :

  • Gain → level volume tiap speaker
  • Crossover → pembagian frekuensi antara speaker dan subwoofer
  • Equalizer → koreksi tonal frekuensi
  • Delay → waktu kedatangan suara
  • Alignment → keselarasan antar speaker
  • Coherence → kesatuan suara agar terdengar sebagai satu sumber

Butuh 5 Tahun 

Dari brosur yang diberikan oleh Hardy Nanda, sang kreatornya,  ini adalah sebuah metode sekaligus software untuk kalibrasi sistem audio (speaker, subwoofer, dan sistem playback) yang dirancang dengan pendekatan psikoakustik—yaitu cara otak manusia benar-benar mendengar suara, bukan sekadar apa yang diukur oleh mikrofon.

Hardy mengakui butuh waktu bertahun tahun untuk membuat software ini. Menurutnya, perlu 5 tahun. ribuan data informasi pengukuran, coding, percobaan, sampai perubahan 97 kali sampai saya anggap GCEDAC yang sekarang yang paling mendekati. Mungkin belum sempurna, tapi saya anggap ini sudah sangat mendekati, dari versi 0.1 sampai versi 2.0 ASIO, itu percobaan ratusan kali, 97 kali revisi core transformnya.

“Gcedac itu digunakan untuk kalibrasi sistem tata suara yang menggunakan speaker-sub. Kalau tidak ada speaker sub, Gcedac tidak ada gunanya. Kalau ada speaker sub tetapi tidak menggunakan DSP, ya tidak berguna juga. Apanya yang mau dikalibrasi? Gcedac ini sangat membantu untuk kalibrasi multi sub yang biasanya bikin pusing. Misalnya, ada lebih dari 2 sub(katakanlah  8 sub), Gcedac bisa memastikan bahwa semua sub itu koheren dengan speaker speaker lainnya”kata Hardy Nanda.

Jadi pingin tahu lebih persisnya. Kapan kapan pepet Hardy ah…

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *